Rabu, 20 September 2017

THE DEAD RETURNS: Ketika Jiwa Menyatu dengan Raga yang Berbeda



Judul : The Dead Returns
Penulis : Akiyoshi Rikako
Penerjemah : Andry Setiawan
Cetakan : Kelima, Juli 2016
Tebal : 252 hlm
Penerbit : Haru
Kategori : Novel J-Lit
ISBN : 978 – 602 – 7742 – 57 – 4 

Blurb:

Suatu malam, aku didorong jatuh dari tebing.
Untungnya aku selamat.

Namun, saat aku membuka mataku dan menatap cermin,
aku tidak lagi memandang diriku yang biasa-biasa saja.
Tubuhku berganti dengan sosok pemuda tampan yang tadinya hendak menolongku.

Dengan tubuh baruku, aku bertekad mencari pembunuhku.

Tersangkanya, teman sekelas.

Total 35 orang.

Salah satunya adalah pembunuhku.
 

***





Namaku Koyama Nobou. Aku salah satu murid di SMA Higashi. Jika kamu juga bersekolah di sana, jangan heran kalau kamu tidak mengenal siapa aku. Karena keberadaanku di sana tidaklah menonjol. Aku adalah murid biasa, sangat biasa malah. Tidak ada yang bisa ditonjolkan dari diriku, selain kegemaranku terhadap kereta api. Itu pun tidak membuat murid-murid lain sadar akan keberadaanku. Singkatnya, ada atau tidak ada aku di sana, keberadaanku tetaplah abstrak.

Suatu malam, aku diundang seseorang untuk datang ke sebuah tebing. Aku tidak tahu pasti siapa pengirimnya. Undangan selayaknya seorang teman kupikir. Tapi ternyata tidak. Yang terjadi justru aku menjadi korban pembunuhan. Aku didorong jatuh ke dasar tebing hingga kehilangan kesadaran.

Namun, begitu aku sadar, aku tidak menjadi diriku sendiri. Entah bagaimana, aku bertukar tubuh dengan orang lain. Jiwaku, berada di raga orang yang tidak kukenal. Sebenarnya ini adalah kesempatan bagus, karena dengan tubuh baruku ini, aku bisa mencari tahu siapa pembunuhku yang sebenarnya.

Aku mengantongi satu fakta untuk mempermudah misiku kali ini, yakni, pembunuhnya adalah salah satu teman sekelasku…

***

Buku kedua dari Akiyoshi Rikako yang aku baca setelah Girls in The Dark. Untuk informasi saja, The Dead Returns sebenarnya diterjemahkan dan diterbitkan di Indonesia sebelum GITD. Sama seperti GITD, secara garis besar, The Dead Returns (TDR) sama-sama mengangkat latar dunia sekolah dengan tokoh-tokoh remaja (tentunya) sebagai penggerak dan panggung utama ceritanya. Sedangkan untuk premis ceritanya sendiri juga tidak aa perbedaan yang berarti dari kedua novel ini, yakni mengusut tentang persitiwa pembunuhan dengan mencari siapa pembunuhnya.

Namun, jika kita pahami lebih jauh, apa yang diceritakan di TDR ini jauh lebih sederhana dengan apa yang ada di GITD. Jika di GITD kita akan disuguhi oleh berbagai macam sudut pandang yang berbeda, sehingga membuat kita susah untuk mengidentifikasi siapa pembunuhnya. Ditambah lagi, di novel GITD, penulis sengaja menutup celah untuk pembaca menebak seperti apa twist-nya nanti. Namun jika di TDR—sedikit saja aku kasih tahu, karena aku tidak mau kalau berujung spoiler—di beberapa bagian penulis dengan pandainya mengarahkan spekulasi pembaca ke beberapa tokoh yang diduga menjadi pembunuhnya. Namun ternyata yang terjadi tidak seperti itu, twist-nya sangat melenceng dari apa yang sudah dikodekan penulis di awal. Di sinilah letak poin plusnya, meski teknik seperti ini sudah bisa aku baca sebelumnya, namun tetap saja aku kagum dengan penulis yang bisa mengemas cerita beserta plotnya yang sedemikian rapi.

Banyak sekali pertanyaanku yang belum terjawab, bahkan saat buku ini sudah menjelang akhir. Namun kekhawatiran itu seketika sirna ketika satu demi satu rangkaian cerita mulai tersusun. Semua kejadian disusun dengan sangat logis, sehingga tidak memungkinan adanya plot hole. I think that, it was really perfect! Cerita yang bagus dan mengalir, didukung pula dengan terjemahan yang mudah untuk dipahami. Kerja yang baik Mas Andry Setiawan, sang penerjemah.

Selain fokus pada pengusutan kasus pembunuhan, novel ini juga sedikit menyinggung tentang (mungkin) kesenjangan sosial yang terjadi dalam lingkungan sekolah. Apa yang disampaikan penulis terkait hal tersebut dengan mudah aku tangkap poinnya. Kenapa? Karena alasan pertamanya adalah, yang mengalami hal tersebut yaitu tokoh utamanya sendiri, dan yang kedua, karena aku benar-benar melihat realita di sana. Bukankah sekarang kita sering juga lihat, anak-anak sekolah hidup berkelompok, membuat geng yang anggotanya murid-murid tertentu, dan anak-anak lain yang dirasa ‘tidak pantas’ menjadi terasingkan tanpa seorang teman. Topik yang akhir-akhir ini sangat sensitif dibicarakan tersebut menjadi lebih mudah ngena di hati saat membaca buku ini.

Dan oh ya, karena juga mengangkat latar Jepang seperti GITD, kita juga jadi tahu beberapa budaya atau kebiasaan orang Jepang. Jika di GITD kita mengenal yami-nabe. Yami-nabe adalah sebuah tradisi unik yang dilakukan oleh siswi-siswi di Jepang. Sejauh yang aku tahu, yami-nabe adalah seperti ini, setiap siswi akan membawa makanan mereka sendiri (makanannya harus dirahasiakan, jadi satu siswi tidak tahu apa makanan yang dibawa siswi lainnya), lalu makanan mereka dikumpulkan menjadi satu, dimasukkan ke sebuah wadah hingga mendidih, lalu dimakan besama-sama. Kurang lebih seperti itulah. Dan di TDR, kita akan diajak untuk melihat festival sekolah tahunan. Ini lebih menyenangkan memang, karena di negara kita tidak ada yang seperti itu. Kalau pun ada, mungkin hanya sebatas perayaan ulang tahun sekolah. Owh, take me there bruuhh!

Overall, The Dead Returns, mau pun darklit lainnya (terjemahan dari Jepang, terlebih yang ditulis Akiyoshi Rikako) rekomen sekali untuk kalian yang menggemari jenis cerita seperti ini. Believe me, you won’t be disappointed, guys!


Thank you and see u in the next one!

2 komentar:

  1. Belum baca ini nih ,,, Tapi buku-buku akiyoshi lainnya malah udah baca semua haha :"D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Segera baca kk, aku kurang Holy Mother sama Scheduled Suicide Day

      Hapus