Minggu, 10 Januari 2016

[Book Review] Salon Tua - Christina Juzwar





Judul               : Salon Tua
Penulis            : Christina Juzwar
Tahun terbit    : 2015
Cetakan          : Pertama
Tebal               : iv + 228 hlm
Penerbit          : Bentang Pustaka
Kategori         : Darklit

Blurb: 

“Elena yakin boneka dengan rambut seram itu tadi sudah ia simpan di laci. Namun, entah kenapa boneka itu selalu muncul lagi di tempat yang tidak seharusnya.”

Meski Mama telah menyulap rumah tua itu menjadi salon sekaligus hunian yang layak ditinggali, sejak awal Elena menyadari ada yang tidak beres. Rumah itu menyimpan misteri. Elena sering mendengar suara-suara ganjil dari kamar sebelahnya yang kosong. Bau tak sedap juga menguar dari situ. Lalu, betapa kagetnya Elena ketika sosok itu datang menghampirinya, gadis berambut panjang dengan muka rusak mengerikan.

Apa ini ada hubungannya dengan musibah kebakaran dan pembunuhan yang konon terjadi di rumah itu 20 tahun yang lalu?

Rumah semakin diliputi hawa mencekam sejak Mama memperkerjakan dua karyawan di salonnya. Keganjilan demi keganjilan mengusik Elena setelah itu. Hingga puncaknya, pelanggan-pelanggan salon Mama menghilang, lalu ditemukan beberapa hari kemudian dalam keadaan tewas mengenaskan, dan … tanpa rambut!


***
           
Keluarga Elena baru saja mengalami perpecahan. Kedua orang tuanya bercerai dan Papanya kini tinggal bersama wanita lain. Hal ini otomatis membuat kehidupan Elena berubah 180 derajat. Tanpa belas kasihan, Papa mengusir Elena dan Clara—mamanya—dari rumah. Mereka tak bisa berkutik, terlebih rumah itu bersertifikat atas nama Papanya. Menghadapi nasib demikian, sepasang Ibu dan anak ini tak tinggal diam. Keduanya kelimpungan mencari tempat tinggal baru yang layak untuk mereka tempati nantinya. Hingga datanglah hari itu, Mama Clara mengabarkan bahwa dirinya telah membeli sebuah rumah di kawasan Bogor yang rupanya terletak cukup jauh dari pusat kota. Awalnya Elena menolak, alasan utamanya adalah karena ia tak terbiasa hidup jauh dari dunia peradaban.

            Namun, karena tidak ingin melihat Mamanya terus bersusah payah dan kelimpungan cari tempat tinggal, akhirnya Elena menyetujuinya. Rupanya hal ini berhasil mengembalikan semangat Mama Clara yang awalnya sempat hilang. Selain karena Elena setuju dengan ajakannya, hal lain yang membuat Mama Clara senang adalah karena rumah yang dibelinya itu adalah rumah bekas salon. Di mana nantinya ia bisa memulai bisnis salon yang sempat terbengkalai sekian lama di rumah itu. Lagi pun, mendirikan bisnis salon sudah menjadi impiannya sejak dulu.

            Namun, beberapa gosip dan berita yang mengisahkan bahwa rumah itu ‘berhantu’ mulai mengusik ketenangan Elena. Terlebih, saat gosip itu ternyata membuktikan kebenarannya. Banyak hal-hal aneh dan janggal yang Elena temukan di rumah barunya itu. Boneka seram yang suka muncul tiba-tiba, dan bau tak sedap yang terus menyeruak di kamar kosong sebelah ruangan tempat tidurnya. Orang bilang, semua kejanggalan itu ada hubungannya dengan musibah kebakaran yang konon terjadi 20 tahun lalu.

            Suasana kian mencekam tatkala sosok gadis menyeramkan mulai menampakkan diri di beberapa sudut rumah. Gadis itu bersenandung, suaranya menyerukan kesedihan. Elena bergidik ketakutan saat sosok itu mendatangi kamarnya. Wajahnya rusak, seperti terkena luka bakar. Atau… mungkin saja, ia korban kebakaran yang pernah terjadi di rumah itu 20 tahun lalu?

Gadis itu menoleh, mulutnya terbuka… sepertinya, ia hendak menyampaikan sesuatu…

***

Akhirnya, senang sekali rasanya bisa kembali membaca buku horor. How I like it so much. Aku memang salah satu penggila cerita horor. Jadi, nggak perlu kalian tanyakan lagi dalam waktu berapa lama aku menuntaskan buku ini, hehe. Jika banyak orang yang menghindari membaca buku horor pada malam hari, namun aku justru berbeda. Aku berhasil menuntaskan buku ini pada jam 11 malam. Huuu.. cukup serem juga awalnya. Tapi, kalau nggak gitu nggak menantang namanya, hehe. Membaca cerita horor itu kesannya ‘Lagi dan Lagi’. Bikin nagih!

            Jika boleh jujur, aku nggak tahu mau nulis apa untuk review buku ini. Karena memang pada dasarnya aku terlalu menikmati ceritanya. Dari awal hingga akhir nggak ada yang perlu aku kritisi rasanya. Apa karena aku nggak teliti ya? Entahlah, menurutku pada dasarnya buku ini memang sudah dikemas dengan baik. Setidaknya itu yang aku pikirkan. Apakah apa yang kalian pikirkan sama denganku?  Ehm, aku rasa kalian harus mencoba membacanya dulu.

            Jika mengulas cerita dalam buku ini, sebenarnya tema cerita yang diangkat cenderung biasa. Sepasang Ibu dan anak yang pindah ke rumah baru yang berhantu. Aku sudah pernah menemui cerita serupa di salah satu buku yang pernah aku baca sebelumnya. Tapi yang membuat aku suka dengan ceritanya adalah karena semua kejadian di buku ini mempunyai sebab musabab yang logis dan terkesan tidak mengada-ngada tanpa ada alasan yang jelas. Bayang-bayang masa lalu tidak lepas dari setiap kejadian yang terjadi. Dan, penggambaran adegan yang terjadi di masa lalu pun cukup mudah untuk dimengerti. Alurnya yang maju mundur mampu menambah keseruan di buku ini. Aku memang suka dengan cerita yang menyajikan alur maju mundur. Karena pasti tidak lepas dari beberapa adegan di masa lalu yang cukup membuat kita tahu tentang filosofi terhadap kejadian yang terjadi sekarang ini. Dari situ kita mulai mengaitkan satu peristiwa dengan peristiwa lain hingga menjadi satu cerita yang runut dan utuh.

            Selain itu, kesan horor dalam buku ini dikuatkan lewat beberapa ilustrasi adegan yang sangat mencekam. Seperti adegan munculnya sosok gadis menyeramkan, dan beberapa kejanggalan yang semakin menimbulkan teka-teki penuh misteri. Banyak part yang terkadang membuat kita meraba tengkuk sendiri (dibaca: merinding), hehe. Tidak hanya menyangkut tentang hantu dan sejenisnya, tapi cerita dalam buku ini juga menyuguhkan beberapa konflik dalam keluarga. Seperti kisah perceraian antara Mama dan Papa Elena, dan juga ketegangan yang sempat terjadi antara Elena dan Mamanya terkait kepindahan mereka ke Bogor yang sama-sama terdapat di awal cerita

            Oh iya, pemberian karakter kepada setiap tokoh juga terbilang khas dan dominan. Elena menurutku lebih kepada gadis yang kekinian. Ya, nggak? Tidak bisa jauh dari segala fasilitas mewah sama seperti saat ia hidup di Jakarta. Di balik itu, Elena juga sosok anak yang sangat menyayangi Mamanya, care dengan keadaan dan tidak mudah putus asa. Selain Elena, ada juga Mama Clara. Menurutku karakter yang ada pada tokoh Mama Clara terbilang cukup mirip dengan karakter yang ada pada Aldo. Yakni sama-sama tidak peduli dengan adanya gosip, isu-isu miring dan bisa dibilang skeptis dengan hal-hal yang begituan. Hal ini sangat berbanding terbalik dengan karakter Bintang. Bintang justru lebih suka mendengar dan mempercayai adanya gosip, juga sering menyebar gosip—terutama tentang filosofi rumah berhantu yang ditempati Elena dan Mamanya.

            Konflik batin yang sempat terjadi pada tokoh Elena terkait perasaannya terhadap Aldo juga memberi pelengkap yang manis dalam cerita ini. Di satu sisi, Elena mengagumi sosok Aldo yang cool, tapi di sisi lain ia juga memikirkan omongan Bintang tentang kepribadian Aldo yang ‘playboy’. Pokoknya seru deh. Kehadiran beberapa tokoh lain seperti Angela dan Lintang juga cukup ambil peran dalam buku ini. Terlebih saat aku tahu bahwa ternyata benang merah dari segala misteri di buku ini bersumber dari tokoh ini. Yang jelas membuat kita tidak menduga-duga sebelumnya. Aku rasa, konsep cerita di buku ini memang sudah disusun dan dipikirkan dengan baik. 

            Ending? Berbicara tentang ending, no comment deh. Very unpredictable!

            Bagi penggila cerita horor sama sepertiku, aku rasa nggak salah kalau buku ini aku rekomendasikan buat kalian semua. You must try it!

            Hi! Adik kecil berwajah seram, akan kuberi 4,5 dari 5 bintang untukmu!

            Terima kasih!

 ***


Sebuah rahasia terkubur….
Di setiap sudut rumah itu.
Sesuatu yang mengerikan
Terus menguasainya.
Jika tak ada yang berani menghentikannya….
Maka ….
Tidak ada seorang pun yang akan selamat ….


3 komentar:

  1. Wah, aku baca reviewnya jam 3 pagi. -___-

    Novel genre horor yang aku baca itu bukunya Risa Sarasvati, terbitan Bukune juga. Lumayan oke juga, apalagi dari kisah nyata. Dan review ini bagus, tapi kayaknya nggak mau beli buku dulu deh, yang belum dibaca masih banyak. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang ini Bentang ding. -___-

      Hapus
    2. Terima kasih atas kunjungannya. Iya, ini terbitan bentang

      Hapus