Jumat, 22 Januari 2016

[Book Review] Jika Aku Milikmu - Bernard Batubara





Judul              : Jika Aku Milikmu
Penulis           : Bernard Batubara
Tahun terbit   : 2015
Cetakan         : Pertama
Tebal              : x + 262 hlm
Penerbit         : GagasMedia
Kategori        : Novel
ISBN             : 978 – 979 – 780 – 839 – 6

Blurb:
Bisakah cinta tumbuh tanpa keragu-raguan?

[Sarif]
Bila suatu ketika cinta datang dan menghampirimu, mampukah kau menerima ketidaksempurnaan yang dibawa oleh cinta?

[Nur]
Berapa lama yang dibutuhkan untuk mengubah keragu-raguan menjadi cinta? Mungkin tidak selama waktu yang diperlukan untuk memupuk luka.

[Mei]
Di dalam setiap alunan melodi rindu, ada satu nada yang berbeda. Seperti perasaan ganjil tentang cinta yang tidak semestinya—yang saat ini kurasa.


***

Jika suatu hari nanti, tiba waktunya kau untuk mencintai, bisakah kau memberikan cinta kepada orang yang tidak sempurna?

***

“Berapa lama waktu yang dibutuhkan seseorang untuk yakin bahwa dia benar-benar sedang jatuh cinta?”

Sudah lama Sarif Tizarudin menyimpan perasaan cinta kepada gadis yang ada di depannya, Nuraini Abubakar. Namun, sampai sekarang ungkapan itu tak pernah keluar dari mulutnya. Menimbulkan banyak keraguan yang sempat membuat dirinya bertanya ‘apakah perasaan ini benar-benar cinta, atau hanya sesuatu yang menyerupai cinta?’

Hingga saat keduanya berpisah di pintu keberangkatan Bandara Supadio Pontianak, perasaan itu masih terpendam begitu saja. Saat itu Sarif hendak berangkat ke Jakarta untuk melanjutkan studinya di perguruan tinggi. Keduanya sama-sama berpisah dengan menyimpan sebuah kekecewaan. Kekecewaan yang disebabkan oleh perasaan yang tak mampu diungkapkan. 

“Sementara Nur, merasa kecewa terlalu menyesak di dadanya. Sekuat mungkin, ia menahan air matanya.
Mungkin benar, tak pernah ada cinta di hati Sarif yang diperuntukkan baginya.”
Hlm. 2

Empat tahun berikutnya, secara tak sengaja, keduanya kembali bertemu. Pertemuan itu kembali menorehkan kenangan yang dulu sempat terukir antar keduanya. Di mata Sarif, Nur adalah penyihir berbiola. Sama seperti Ayahnya, Pangsuma Abubakar—seorang violis legendaris di kotanya. Yang mampu menghipnotis semua orang lewat melodi dari setiap gesekan dawai dan busur indahnya. Sejak saat itu, Sarif memandang Nur dengan cara yang berbeda. Dan, mungkin juga menganggap Nur sebagai sosok yang berbeda. Dan, sejak itulah pula, Sarif menyadari satu hal ‘dia telah jatuh cinta’.
 
Namun, empat tahun berlalu bukan berarti memberi banyak perubahan pada diri Sarif. Cinta itu tetap ada, tidak berubah sedikit pun atau pun hilang tanpa jejak. Namun, keragu-raguan itu, masih ada. Terus menghantui pikirannya, dan kembali menyisakan sebuah pertanyaan. Pertanyaan penuh keraguan ‘jika aku milikmu, apakah kita akan bahagia atau justru akan terluka?’

***

“Satu-satunya hal yang membuat kita bertahan dengan segala hal yang tidak kita sukai adalah orang yang kita cintai”
Hlm. 50

‘Jika Aku Milikmu’ adalah buku ketiga dari seri LOVE Cycle yang dikeluarkan GagasMedia. Memang, jika dilihat dari tampilan luarnya, buku ini berbeda dengan dua buku Love Cycle yang dirilis sebelumnya. Buku ini bercerita tentang sebuah cinta dan impian. Cinta dengan penuh keraguan dan impian yang tertunda. Saat mengetahui jika tema yang diangkat adalah keraguan dalam sebentuk hubungan, aku sempat mengira jika dari awal hingga akhir buku ini hanya bercerita tentang rasa cinta yang tak pernah terungkap. Cinta antara dua orang yang sama-sama ragu untuk menjalani hubungan sebagai sepasang kekasih. Namun, ternyata dugaanku salah besar. Seiring kita membuka lembar demi lembarnya, akan tersaji satu per satu adegan manis dan romantis dari sepasang kekasih, Sarif dan Nur.

Cara penulis menggambarkan setiap adegan romantis terbilang sangat pandai. Kerap kali aku dibuat senyum sendiri membayangkan setiap adegan romantis yang terjalin antara Sarif dan Nur. Diceritakan lewat sudut pandang orang ketiga, membuat penulis lebih leluasa untuk bercerita melalui sudut pandang banyak tokoh. Begitu juga dengan aku sebagai pembaca yang begitu menikmati jalan cerita yang dibawa oleh setiap tokoh. Alurnya yang maju mundur juga tak kalah membuat ceritanya kian menarik. Membawa serentetan kisah di masa lalu yang membuat setiap cerita di buku ini memiliki latar belakang yang logis. Jauh dari kesan tidak masuk akal maupun mengada-ngada.

Kehadiran tokoh Mei sebagai orang ketiga dalam hubungan Sarif dan Nur juga kian menambah keseruan konflik di buku ini. Dari situ, kita bisa merasakan bagaimana sulitnya hubungan sepasang kekasih ketika sedang diterpa masalah. Namun, dari situ juga kita bisa mendapat pelajaran bahwa, selalu ada jalan keluar dari setiap masalah asal selalu dilandasi rasa kepercayaan antara kedua pihak. 

Selain itu, buku ini juga mengangkat unsur lokalitas. Kota Pontianak yang menjadi pilihannya—kota kelahiran penulis. Jika kamu membaca buku ini, pasti kamu akan setuju jika unsur lokalitasnya sangat kental. Banyak part / bagian yang mengambil latar kota Pontianak atau bahkan mengangkat budaya di kota Pontianak. Tidak mungkin jika aku ceritakan satu persatu. Selain karena banyak sekali, bukankah itu juga terlalu spoiler? Biarkan kalian saja yang mengetahuinya nanti. Caranya? Ya Beli! Hahaha.

Ok, aku kasih bocoran dikit aja. Unsur lokalitas di buku ini diangkat lewat beberapa tempat di Pontianak yang menjadi latar dalam cerita. Seperti pinggiran Sungai Kapuas—yang menjadi tempat kencan favorit Sarif dan Nur. Juga yang lain seperti unsur kebudayaan semacam perayaan Imlek besar-besaran dan kompleks perumahan Radakng yang menjadi khas dari kota khatulistiwa tersebut. Selain itu, ada juga beberapa keresahan—aku menyebutnya keresahan—di Pontianak yang juga dimasukkan ke dalam cerita. Seperti masalah pembalakan liar yang sering terjadi, dan keadaan Sungai Kapuas yang mulai tercemar. Aku rasa, buku ini cocok juga kalau dimasukin ke Seri Indonesiana dari Gagas, hehe. Tapi, ya nggak mungkinlah. 

Oh ya, ada satu part di buku ini yang membuatku bingung. 

Yaitu pada halaman 74 ; ‘Nuraini Abubakar berusia tujuh belas tahun. Tepat tujuh belas tahun, tidak kurang dan tidak lebih’
 
…dan pada halaman 78 ; ‘Pagi itu tujuh hari kemudian, pada hari ulang tahunnya, Nur melangkah keluar rumah…’

Coba fokus ke tulisan yang aku cetak tebal. Pada hlm. 74, disitu disebutkan bahwa Nur tepat berusia tujuh belas tahun, tidak kurang dan tidak lebih. Sementara di hlm. 78, juga disebutkan bahwa hari itu—tepat tujuh hari sesudahnya—adalah juga hari ulang tahun Nur. Jadi, yang bener, ulang tahun Nur itu tujuh hari sebelumnya, atau tujuh hari sesudahnya? Ehmm, bingung? Iya. 

Tidak selamanya keraguan akan membuat seseorang takut untuk mengungkapkan perasaan. Buktinya, keraguan yang ada di buku ini tidak membuatku takut untuk mengatakan bahwa ‘aku telah jatuh cinta pada setiap ceritanya’

Terima kasih! 

***

“Ada yang lebih penting dari cinta dan impian, yaitu impian seseorang yang kita cintai.”

2 komentar: