Jumat, 08 Januari 2016

[Book Review] Maneken - Sangaji Munkian




Judul : Maneken
Penulis : SJ. Munkian
Tahun terbit : 2015
Cetakan : Pertama
Tebal : x + 181 hlm
Penerbit : Mahaka Publishing 
(Imprint Penerbit Republika)
Kategori : Novel
ISBN : 978 - 602 - 947 - 406 - 0 


Blurb:

Dalam sejarah kehidupan di dunia, benda mati hampir selalu tidak dihiraukan. Tidak ada yang mau repot-repot memikirkan perasaan benda mati, apalagi memerhatikan kebutuhannya. Kau bahkan tak pernah tahu kan, bahwa maneken bernama Claudy—yang bekerja keras di etalase terdepan toko busana Medilon Shakespeare—mempunyai perasaan. Mimpi-mimpinya dilambungkan untuk kemudian dihempaskan lagi hingga hanya bisa bergantung pada nasib dan keajaiban. Ya, keajaiban.

Novel ini akan membuka mata hatimu dengan menempatkanmu pada posisi benda mati yang tak dihiraukan, meski sedang berjuang mati-matian untuk mencapai mimpi-mimpi. Kau akan melihat dari sudut pandang yang berbeda, dan semoga itu akan membuatmu semakin mengerti, betapa kami, aku dan Caludy, iri kepada kalian.

***


“Tak ada yang tak mungkin, karena kau hidup di bawah awan. Kau diperbolehkan bermimpi setinggi awan dan bisa berusaha meraihnya.
Coba bayangkan jika kau hidup di atas awan, di manakah kau menggantung mimpimu?”

                 Claudia / Claudy adalah sosok maneken cantik yang terpajang di etalase utama sebuah toko busana milik seorang manager cantik; Sophie Claudia Fleur. Adalah Medilon Shakespeare, sebuah toko busana milik Sophie yang paling berpengaruh di kota. Semenjak dipindahkan ke etalase utama, Claudy—maneken—merasa bahwa dirinya seakan lebih bebas semenjak pertama kali diciptakan. Claudy menamainya etalase ‘milikku’. Namun, semua itu berubah ketika sebuah maneken lain ternyata juga diletakkan satu etalase bersamanya. Maneken itu bernama Fereli. Claudy merasa terganggu dengan kehadiran Fereli. Bagaimana tidak, kini ia harus berbagi tempat dengan maneken asing dalam satu etalase. Etalase yang sudah ia anggap miliknya sendiri. Bagaimana bisa ia berbagi tempat—bahkan yang sudah ia anggap sebagai rumah sendiri—dengan maneken yang tak ia kenal?

Namun seiring lamanya mereka berada dalam satu etalase dan menjadi dua model utama Medilon Shakespeare, tak dipungkiri kedekatan terjalin antar keduanya. Tak hanya itu, kedekatan antara Claudy dan Fereli juga menimbulkan benih-benih cinta dan membawa mereka ke hubungan yang lebih intens. Kehadiran Claudy dan Fereli sebagai model maneken utama juga memberi kebanggaan tersendiri bagi Sophie. Banyak pelanggan yang berdatangan ke toko busananya itu. ‘Maneken ini seolah benar-benar hidup, dan terlihat bahagia sebagai sepasang kekasih’, begitulah kira-kira yang pelanggan ucapkan saat melihat pesona Claudy dan Fereli di etalase utama Medilon Shakespeare.

Namun, rupanya sebuah petaka besar terjadi pada pemilik Medilon Shakespeare: Sophie. Ya, petaka mengejutkan yang datang dari orang terkasihnya berhasil membuat Sophie merasa terpukul dan sangat frustasi. Namun, semua rasa frustasinya itu ia lampiaskan kepada kedua maneken yang menjadi kebangaan Medilon Shakespeare selama ini. Ya, Claudy dan Fereli. Mereka tak luput dari rasa amarah Sophie kala itu.

Sebenarnya, apakah petaka yang dialami oleh Sophie sehingga ia berubah frustasi seperti itu?

Dan, bagaimanakah nasib Claudy-Fereli selanjutnya? Mampukah mereka terbebas dari pelampiasan amarah Sophie?

Atau, apakah ini akan menjadi akhir yang tragis untuk kebersamaan mereka?

***

“Kau kira hanya manusia saja yang memiliki obsesi terhadap cinta? Jangan membuatku tertawa. Aku pun sebagai benda yang dipajang di sebuah toko punya obsesi itu dan akan memperjuangkannya.”

Kesan yang aku dapat saat pertama kali membaca buku ini adalah it’s different! Selain karena ini adalah kali pertamanya aku membaca buku bergenre fantasi, juga karena buku ini mengusung ide cerita yang tak biasa. Maneken menjadi pokok bahasan utama dalam buku ini. Dan uniknya, tak hanya itu, tokoh utama dalam buku ini juga sebuah maneken. Ya, maneken adalah benda mati. Lalu, bagaimana bisa jadi tokoh utama? Itu yang menarik. Aku seolah menemukan sebuah angin segar yang berhasil dihadirkan oleh penulis melalui ide ceritanya yang menarik.

Di buku ini, penulis bercerita menggunakan sudut pandang orang pertama ‘aku’. Dimana ‘aku’ ini bukanlah manusia, melainkan maneken. Sudut pandang ‘aku’ dituturkan melalui kedua tokoh maneken—Claudy dan Fereli—secara bergantian. Di sini, secara otomatis kita dituntut untuk memposisikan diri sebagai benda mati. Segala keadaan, maupun suasananya dijelaskan secara langsung melalui tokoh maneken ini dengan menggunakan setiap indera dan apa saja yang berhasil dirasakan dari si maneken tersebut. Tak bisa dipungkiri, sudut pandang dari sosok maneken cukup membuatku tertarik. Asumsi dan persepsi yang mereka tuturkan terhadap kehidupan manusia dan dunia luar memberiku sebuah pandangan yang baru. Tidak hanya itu, berperan sebagai benda mati, mau tak mau juga membuat kita harus merasakan seperti apa perasaan dan pola pikir yang diutarakan oleh kedua tokoh maneken ini. Betapa mereka merasa tak diperhatikan dan menyimpan keirian terhadap kehidupan manusia. Di satu sisi, sebenarnya ini juga bisa membuat manusia merasa bersyukur. Ya, bersyukur bahwa kita—manusia—lebih berhak melakukan setiap aktivitas dengan leluasa. Tidak seperti maneken yang ada di buku ini. Untuk mengekspresikan kebebasan saja, mereka seolah tidak ada harapan dan cenderung mustahil.

Oh iya, berbicara tentang benda mati, aku jadi teringat dengan apa yang dikatakan oleh Papaku beberapa hari lalu. Waktu itu kita lagi nyuci mobil, dan beliau berkata ‘Kita nggak boleh menganggap remeh benda mati, kalau kita rawat dengan baik dan telaten, nanti mereka juga akan memberikan respon baik kepada kita’. Jadi, aku rasa tidak salah apabila penulis mengangkat cerita tentang keberadaan benda mati yang cenderung dianggap kurang penting atau bahkan tak berguna ini. Secara tidak langsung, buku Maneken ini berhasil memengaruhi persepsi dan spekulasi manusia terhadap benda mati menjadi lebih baik. Semoga saja, setelah membaca buku ini, kita bisa lebih menghargai keberadaan abiotik-abiotik di luar sana.

                Selain itu, meski buku ini tergolong ke dalam genre fantasi, namun ada satu part yang membuatku ingin mempertanyakan tentang kebenarannya. Yaitu pada hlm. 166, :

             ‘Maka bila dalam kehidupan manusia ada desas desus maneken atau boneka dapat bergerak sendiri itu benar, bukan mitos. Hanya saja bergeraknya kami tidak akan pernah diketahui dan diungkap manusia’. 

                   Ingin aku yakini kebenarannya, tapi ini novel fantasi. Ingin aku abaikan, tapi ya, gimana ya? Di lain sisi, sebenarnya part ini juga menguatkan mitos yang beredar dalam masyarakat tentang benda mati yang suka gerak-gerak sendiri. Maka dari itulah, susah juga jika pernyataan di atas aku abaikan begitu saja.

                Selain itu, pemberian karakter pada setiap tokoh menurutku juga cukup kuat. Misal, pada kedua tokoh maneken, keduanya memiliki karakter yang cukup kuat dan dominan. Claudy adalah maneken yang sangat suka berfantasi dengan pikirannya, dan agak sensitif menurutku. Terbukti saat mengetahui bahwa Fereli satu etalase bersamanya, ia justru merasa jutek dan cuek dengan kehadirannya. Jika Fereli, maneken ini menurutku pembawaannya cool, tidak banyak bicara, dan berlagak berkelas dengan kemampuan bahasa Perancisnya. Karakter kuat lain juga ada pada Sophie, sangat khas dan cukup mudah dikenali. Sophie juga merupakan sosok yang selalu ingin benar di setiap detailnya dan ingin semuanya terlihat maksimal atau sempurna. Hmm… Miss Perfect lah istilahnya. Kehadiran beberapa tokoh figuran seperti Vince, Deborah, Nichole, dan lain-lain juga membuat buku ini nampak tidak sepi. Dalam arti, semua tokoh ikut ambil peran di setiap cerita dan tidak terkesan sebagai tempelan saja.

                Namun, di balik beberapa kelebihan itu, ada juga kesalahan yang ingin aku koreksi dari buku ini. Sebenarnya kesalahan ini tidak begitu nampak, butuh kejelian untuk mengetahuinya. Yaitu tentang kekonsistenan penyebutan nama. Pertama, pada halaman 79, pada kalimat:

                ‘Kau romantis sekali, Bailey’ (hlm 79)

                Pada dialog di atas, yang berbicara adalah Sophie dan ditujukan kepada kekasihnya. Aku koreksi karena di halaman sebelumnya (78) panggilan sayang Sophie kepada kekasihnya adalah ‘Fereli’ bukan Bailey.

                Yang kedua pada halaman 120, pada kalimat:

                ‘Menyelamatkan Sophie, dan kami akan terbang bersama di udara. Melayang terbang tak terbayang’.

                Penulisan yang benar seharusnya ‘menyelamatkan Claudia’, bukan Sophie. Karena yang berbicara saat itu adalah Fereli—maneken.

                Sebenarnya kesalahan di atas tidak terlalu bermasalah, namun hanya untuk koreksi ke depannya saja semoga bisa lebih baik dan diperhatikan lagi.

                Banyak pesan moral yang bisa kita kutip dari buku ini. Salah satunya adalah untuk menghargai keberadaan benda mati yang ada di sekitar kita. Kita hidup di dunia tidak selalunya akan berinteraksi terhadap sesama manusia, ada kalanya keberadaan benda mati juga kita perlukan. Intinya, di sini penulis berusaha mengubah persepsi kita tentang benda mati lewat beberapa pesan moral yang tersirat dalam buku Maneken ini.

                Sebelum berakhir, aku hadiahkan 3 jempol  untuk kisah cinta Claudy dan Fereli.


                Terima kasih!

***



RESENSI INI DIIKUTSERTAKAN DALAM ‘GEBYAR RESENSI MANEKEN’ YANG DIADAKAN OLEH PENERBIT REPUBLIKA

38 komentar:

  1. Maneken. Aku belum berkesempatan baca novel ini, meskipun ada keinginan untuk membacanya. Dari yang kubaca dari reviewmu ini, aku jadi makin sadar diri dengan keberadaan benda mati di sekitarku. Rasanya aku kurang merawat mereka *lirik laptop yang nggak pernah dishutdown*
    Tauk ah, aku harus sayang2 benda mati habis baca reviewmu ini. ��

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya harus dong. Tanpa benda mati pun kita pasti juga ngga bisa apa-apa. Semoga bisa cepet baca bukunya ya Mputt

      Hapus
  2. Wah! Buku yg menarik krn tokoh utamanya bukanlah makhluk hidup, melainkan benda mati: maneken!


    Baca review ini jadi bikin aku penasaran deh kisahnya, terutama dgn apa yg terjadi stlh sebuah petaka besar menimpa Sophie & ia melampiaskannya pd maneken2nya. Trus penasaran juga dengan seberapa dalam penulis bisa menggambarkan perasaan sebuah benda mati & deskripsi sekitar yg dpt ditangkap oleh maneken tsb thdp sekitarnya. Pasti menarik deh!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya, yang menarik di sini tuh adalah cara penulis mendeskripsikan pandangan maneken terhadap dunia luar. Bagus banget Mba, semoga bisa cepet baca yaa :))

      Hapus
  3. Wih, tokoh utamanya maneken! Aku setuju, ini unik banget, sesuatu yang beda dibanding novel lain. Jadi kebayang kayak dongeng2 di majalah B**o di mana tokohnya benda mati, bisa mikir, dan bisa merasakan. Aku jadi penasaran pengin baca novel ini. Kalau dilihat dari reviewnya sih seru 😉

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hmm baru pertama kali ya menemui novel dengan tokoh benda mati? Sama, hehe. Ayo coba baca Mbak, seru dan rekomen nih buku!

      Hapus
  4. Setuju sama kata-katanya Bintang di atas. It's diffrent, ide ceritanya benar-benar nggak biasa. Keren. Gimana bisa penulis mengambil sudut pandang dr benda mati yaitu sebuah maneken. Aku rasa butuh pemikiran yg luar biasa hebatnya, kok jd dibuat penasaran jg ya! Pengen deh bacanya :) ih Bintang bisaan aja nih buat review yg bikin aku bertanya-tanya dan pastinya pengen baca buat nemuin jawabannya hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, penulis keren banget ya Ness. Apalagi di sini manekennya pada jatuh cinta satu sama lain. Hmm gimana ya kira-kira? Hahaha. Tujuannya review kan juga untuk bikin orang penasaran? Ya, ngga?
      Moga bisa cepet baca ya ness

      Hapus
  5. Wah, seru nih kayaknya. Maneken yang bercerita. Bahkan, maneken dan kisah romance-nya. Jadi penasaran sama konflik-konfliknya juga penyelesaiannya. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Keren lo Mbak, ada satu part juga yang di luar nalar kita. Tapi bener2 awesome. Rekomen!

      Hapus
  6. Setuju nih, novel ini unik. Berasa baca cerpen surealis yang suka menghidupkan benda-bedan mati. Duh jadi makin penasaran sama buku ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Imajinasi liar si penulis patut diacungi jempol ya?

      Hapus
  7. Bintang, kakak belum baca novel ini. Lempar dong ke sini. Review kamu bikin penasaraaaann :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tangkaapp ya Ka Intaaannn *lempaarrrr

      Hapus
  8. Hiks aku sedih lagi kalau inget novel ini :'(
    Masih sama kayak dulu. Penasaran banget gimana benda mati menjadi tokoh utama.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Moga bisa cepet baca ya Tya. Ga rugi kok baca ni novel. :)

      Hapus
  9. Aku belum dapat kesempatan juga sama novel ini. Teringat boneka Annabelle nggak. Dia nyata lhooo menurut beberapa sumber terkait. Kalau aku menangkap pesannya tidak hanya benda mati yang harus dihargai tapi seluruh kehidupan memiliki peranannya masing-masing dan kita harus berusaha menjaganya.

    BalasHapus
  10. Jadi keinget boneka Annabelle dan segala historynya. Menurutku tidak hanya benda mati saja yang harus dihargai tapi seluruh kehidupan memiliki perannya masing2 dan kita tetap menjaga serta melestarikannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahah, iya ya, jadi keinget Anabelle. Tapi bedanya Anabelle kan serem , kalo ini nggak. Manis, lucu, gemesin, seru, hahaha.
      Yupp, benda mati juga memiliki peran penting dalam kehidupan. *pelukbukudanlaptopkesayangan :D

      Hapus
  11. Benda mati juga punya perasaan. Waktu itu aku pernah tweet tentang hal ini. Karena sebuah benda juga mempunyai atom-atom penyusun. Apabila diperlakukan dengan baik, dia juga akan merespon dengan baik. Misal benda yang rusak, sudah dibenerin berkali-kali tapi tetap rusak, saat dipeluk penuh rasa sayang dan dibisikin "tolong jangan rusak lagi, aku capek benerinnya" tahunya besoknya dia nggak rusak lagi.

    Aku hanya membayangkan kalau novel ini diangkat ke film, akan seperti apa jadinya? Akankah sama seperti sinetron Boneka Poppy atau MV lagu Gee dari SNSD? :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener banget Kak Aya. Ayahku juga pernah bilang gitu: kalau kita memperlakukan bend amati dengan baik, maka mereka juga akan memberi respon yang baik kepada kita.
      .
      Iya nih, ide ceritanya seru, pasti bakal lebih seru kalau di-film-in. Hmmm.. mirip MV Gee mungkin, aku juga pernah lihat MV itu, hehe

      Hapus
  12. Penasaran sama cerita ini. Jadi, keinget film Toy Story.. Menurutku sih, benda mati itu punya arti lhooo.. Selama kita memperlakukan dng baik, kita akan mendapatkan hal yg baik juga dari benda tsb..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yap, ternyata banyak ya film yang mengangkat cerita serupa (menghidupkan benda mati).
      Ah, aku jadi penasaran banget kalau novel ini di-film-in, setuju nggak Kak? Hehe

      Hapus
  13. Wah saya belum pernah melahap novel yang peran utamanya benda mati. Saya ngebayangin novel ini di film-kan, pasti unik banget!

    'Maka bila dalam kehidupan manusia ada desas desus maneken atau boneka dapat bergerak sendiri itu benar, bukan mitos. Hanya saja bergeraknya kami tidak akan pernah diketahui dan diungkap manusia’.
    Sebenernya agak merinding dengernya. Kalau seandainya saya ada di pihak yang menentang mitos ini, saya pun mungkin akan berpikir ulang, kalau... ya bisa aja kan? Ah susah dijelasin pokoknya XD
    Anw, review-nya keren! Bikin penasaran. Saya pikir buku ini worth to read :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yes, worth to read! Semoga aja ada PH yang mengangkat novel ini ke film, ya?
      Semoga kau bisa cepet baca buku ini ya, Ann. *cepetkegramed, hahaha

      Hapus
  14. Kalau dari penggarapan ide cerita, saya juga merasa kagum. Sebab menggunakan 'aku' dari benda mati. Pasti membutuhkan penyesuaian yang mendalam. Sebab seajaib-ajaibnya benda mati yang bisa hidup, harusnya benda mati tetapi memiliki kekhasan sendiri. pasti seru bisa membaca buku ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya, itulah yang patut kita apresiasi. Salut buat penulis yang mampu meremark dirinya jadi benda mati selama penggarapan novel ini.
      Semoga bisa cepat baca, ya!

      Hapus
  15. Setuju. Ide ceritanya tidak biasa. Dan bahkan sangat langka. Terimakasih sudah mereview, Kak. Saya jadi punya alasan untuk tertarik membacanya! Hehe :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama. Semoga bisa cepat membaca buku ini, ya. Thanks sudah berkunjung :))

      Hapus
  16. Waaah sudah lama ga baca novel bergenre fantasi, at least setuju sama kamu dek, novel ini bener2 beda dan unik, ada sense dimana kita berfikir kalo selama ini kita selalu acuh sama benda mati, padahal "mereka" juga punya dunia yang mungkin kita saja yg tidak sadar akan dunia mereka hehe. Well, nice review! Recommended lah hehe jadi beneran mau nyari tuh novel abis ujian ntar wkwk have a good luck ya buat kedepannya✌️

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yuppp, habis ujian langsung ke gramed borong ini ya, Kak, hehe. Makasiih

      Hapus
  17. Menurut pendapatku, buku dengan tokoh utama benda mati memiliki sejumlah kekurangan, seperti cerita yang kurang berkembang, pergerakan tokoh-tokoh hanya disitu-situ saja (kadang bisa membosankan) dan jalan cerita yang kurang lepas. Dan biasanya buku yang dihasilkan tebalnya tipis. Tapi kelihatannya tokoh Sophie didalam cerita cukup berperan untuk menghidupkan cerita lewat konflik yang dia bawa. Tema buku ini bisa bikin penasaran pembacanya.


    BalasHapus
    Balasan
    1. Overall, buku ini jauh dari kata membosankan kok. Ayo coba dibaca Kak, hehe

      Hapus
  18. Bahkan aku baru tau kalo ini literally tentang maneken. Genrenya fantasi ya? Kayaknya bakal jadi bacaanku selanjutnya nih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, fantasi La. Ayooo La cepetan ke Gramed mumpung masih restock, hehe

      Hapus
  19. Aku suka dengan ide ceritanya yang unik. Tapi belum sempet beli. Bintang beliin dong. :v

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hayoookk besok ke Gramed, hahaha.

      Hapus
  20. Ini tuh buku wishlist banget. Belum sempet beli tapi huhu... aku penasaran kaya apa kisah cinta dua maneken. Kan mereka benda mati, gimana cara penulis menghidupkan cerita. Nice review Bin ;)

    BalasHapus