Sabtu, 04 Juni 2016

[Book Review] A Untuk Amanda - Annisa Ihsani



Judul : A Untuk Amanda
Penulis : Annisa Ihsani
Tahun terbit : 2016
Tebal : 264 hlm
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Kategori : Novel Young Adult
ISBN : 978 – 605 – 03 – 2631 – 3

Bisa dibeli di: bukupedia.com


Blurb:

Amanda punya satu masalah kecil: dia yakin bahwa dia tidak sepandai kesan yang ditampilkannya. Rapor yang semua berisi nilai A, dia yakini karena keberuntungan berpihak padanya. Tampaknya para guru hanya menanyakan pertanyaan yang kebetulan dia tahu jawabannya.

Namun tentunya, tidak mungkin ada orang yang bisa beruntung setiap saat, kan?

Setelah dipikir-pikir, sepertinya itu bukan masalah kecil. Apalagi mengingat hidupnya diisi dengan serangkaian perjanjian psikoterapi. Ketika pulang dengan resep antidepresan, Amanda tahu masalahnya lebih pelik daripada yang siap diakuinya.

Di tengah kerumitan dengan pacar, keluarga, dan sekolahnya, Amanda harus menerima bahwa dia tidak bisa mendapatkan nilai A untuk segalanya.

***

“Aku serius, Amanda. Aku menyukaimu. Kau adalah kepingan yang hilang dari puzzle-ku dan aku tidak menyadarinya selama bertahun-tahun.”
Hlm. 57

“Jadi, kurasa guru-guru cuma menilaiku berdasarkan reputasi. Seperti… aku cuma beruntung beberapa kali di awal dan dapat nilai bagus… lalu mereka terus memberiku A, bahkan di saat aku tidak pantas mendapatkannya. Kau mengerti maksudku?
Hlm. 72

***

Impostor syndrome atau sindrom penipu. Ya, itulah keadaan yang kini tengah dialami oleh Amanda. Menjadi siswi pandai dengan nilai A yang selalu menghiasi kertas ulangannya, dan daftar nilai seratus yang tak pernah absen mengisi buku tugasnya, rupanya membuat Amanda tidak sepenuhnya percaya. Semua dimulai saat Amanda berulang tahun yang ke 16. Hari itu, ia mulai mempertanyakan tentang kepandaiannya. Belakangan ini ia kerap mengerjakan tugas sekolah dengan payah, dan tidak tepat waktu. Anehnya, kenapa ia selalu saja mendapat nilai A ?

Ini tidak adil. Amanda merasa dirinya hanyalah beruntung, dia tidak pandai seperti apa yang orang lain bilang. Kenyataan ini semakin diperkuat saat ia mengerjakan tugas biologi dengan buruk dan terlihat payah. Anehnya, kenapa lagi-lagi ia mendapat nilai A ? Apakah Pak Anton si guru Biologi sudah buta? Ini sudah pasti, Amanda tidak pandai, melainkan hanya beruntung. Keadaan semakin memburuk saat Amanda  nyaris saja salah menjawab pertanyaan yang diberikan Pak Rahmad di kelas ekonomi. Untungnya, lagi-lagi dia terselamatkan oleh siswa lain yang menjawab pertanyaan dengan benar. Bagaimana kalau saja siswa itu tidak menjawab? Semua orang pasti akan tahu bahwa Amanda menjawab salah, dan itu berarti rahasianya akan terbongkar. Amanda tidak pandai! Amanda merasa dirinya adalah seorang penipu! Menipu semua orang dengan embel-embel nilai A yang tidak sepantasnya ia dapat.

“Apa gunanya. Kau seorang penipu. Kau tak akan bisa bertahan.”
Hlm. 141

Mungkin aku butuh mengulanginya: Amanda mengalami sindrom penipu. Begitulah kira-kira yang berhasil disimpulkan oleh Dokter Eli—psikiaternya. Semenjak dirinya merasa tertekan, Ibu memutuskan untuk membawa Amanda pergi ke psikiater dengan tujuan untuk membuat Amanda lepas dari tekanan, depresi, atau apalah semacamnya. Berkali-kali berkunjung dan berkonsultasi kepada Dokter Eli, rupanya tak sedikit pun membawa perubahan pada diri Amanda. Dia tetap merasa dirinya seorang penipu dan tak pantas untuk hidup. Terlebih lagi untuk mendapat nilai A.

Di lain sisi, kehadiran Tommy-sahabat masa kecilnya—rupanya  mampu membuat hari Amanda sedikit lebih berwarna. Menyantap Burger Arif di pinggir danau adalah kegiatan favorit mereka. Tapi, apa jadinya apabila Tommy mengetahui rahasia Amanda? Rahasia bahwa Amanda adalah seorang penipu. Amanda tidak pandai, dan Amanda mengalami depresi?

Bagaimana pula kalau dunia tahu bahwa, A tidak lagi untuk Amanda…?

***

“Tidakkah konsep cinta sejati itu agak sinting—bahwa semua orang perlu memiliki pasangan untuk bisa berbahagia? Lagi pula, bagaimana kau bisa menemukan satu yang tepat di tengah miliaran manusia di planet ini?”
Hlm. 82

“Jika kau pikir kau menderita depresi, tentu saja bakalan jadi begitu. Itu hanya ada di kepalamu. Semua orang punya pilihan, kan? Kau hanya perlu lebih banyak berpikir positif dan bersyukur dengan apa yang kamu punya, hanya orang-orang egois yang mengalami depresi… Mungkin kau perlu mendekatkan diri pada Tuhan…”
Hlm. 119

“Tidak ada yang bisa berhasil sepanjang waktu. Di sisi lain, tidak ada yang bisa gagal dalam segala hal. Setiap orang punya jatah kesuksesan dan kegagalan.”
Hlm. 161

A Untuk Amanda adalah buku kedua dari Kak Annisa Ihsani, tapi ini adalah buku pertamanya yang sukses aku baca. Aku pribadi tidak begitu mengenal penulis yang satu ini, hanya saja belakangan ini namanya sedang menjadi banyak perbincangan di kalangan pecinta buku. Setelah melahirkan buku pertamanya—Teka Teki Terakhir—kini Kak Annisa Ihsani kini kembali meramaikan dunia literasi dengan buku keduanya: A Untuk Amanda.  Secara genre, buku ini tergolong genre Young Adult. Tidak begitu banyak perbedaan sebenarnya dengan teenlit, hanya saja konflik yang diangkat cenderung lebih rumit. Tapi yang dimaksud rumit di sini bukan cerita yang bikin kita cemberut karena sulit dipahami, tapi lebih mengarah kepada konflik yang cenderung kompleks dan lebih luas lagi. Mari kita ulas buku ini dari segala sisi.

Dilihat dari ide cerita atau pun premis yang diangkat, A Untuk Amanda tergolong bacaan yang ringan dan menarik. Untuk pembaca seumuranku (pelajar) aku rasa akan lebih mudah memahaminya karena memang konflik yang dihadirkan juga menyangkut dunia sekolah. Benar-benar cerita yang merakyat, terutama bagi kaum pelajar. Kerealistisan cerita juga menjadi kelebihan buku ini. Seperti tentang target pencapaian nilai seperti anak sekolah pada umumnya, cinta monyet, dan kegiatan ekstrakulikuler yang membosankan dalam sekolah. Selain itu, ada juga beberapa part di buku ini yang menyentil permasalahan tentang anak sekolah yang suka hidup bergerombol dalam satu kelompok tertentu atau membentuk geng. Seperti halnya, anak populer berkumpul dengan anak populer, anak komputer dengan kelompoknya sendiri, dan juga perkumpulan anak atlet yang memiliki meja sendiri di kantin. Hal yang sangat sering kita jumpai di lingkungan sekolah. Selain itu, menurutku kita lebih mudah menemukan kecocokan dengan jenis cerita seperti ini. Dalam arti, tidak ada kesulitan berarti untuk mulai mengikuti arah jalan ceritanya. Di buku ini, tepatnya dari pertengahan sampai ending, penulis banyak menyisipkan unsur depresi, tekanan mental, dan impostor syndrome. Seperti yang sudah aku bilang di atas, depresi ini terjadi pada diri Amanda. Dan penulis di buku ini juga menggunakan sudut pandang orang pertama sebagai Amanda.

Lantas, apa hubungannya depresi Amanda dengan sudut pandang orang pertama sebagai Amanda? Yang pertama, tentu saja kita bisa langsung merasakan seperti apa perasaan dan pemikiran dari tokoh Amanda ini. Kita bisa mengetahui bagaimana Amanda menyikapi penyakit depresinya ini. Cukup menggemaskan memang, mengingat cara berpikir Amanda terkesan complicated. Oya, mungkin ini memang pengaruh tekanan mental yang dialaminya. Aku pribadi jujur, tidak bisa membayangkan bagaimana seorang pelajar SMA bisa se-complicated ini, padahal masalahnya hanya sederhana. Lebih menggemaskan lagi, rupanya depresi yang Amanda alami ini memengaruhinya dalam mengambil setiap keputusan. Dan ada beberapa keputusan yang benar-benar bikin kita geram menurutku. Keputusan konyol Amanda. Ingin rasanya aku teriak: ‘Hey Amanda, bagaimana kau ini? Apa kau sudah gila?’ Sungguh, tapi aku berani kasih nilai A ke penulis, karena di sini Kak Annisa mampu mengoneksikan antara emosi pembaca dan cerita dengan cukup baik.

Hal lain yang membuat buku ini menarik juga karena cara bercerita si penulis. Memiliki gaya tersendiri dan mampu mengemas cerita yang aslinya berat menjadi ringan. Sehingga kita tidak perlu memusing-musingkan masalah ilmu fisika, astronomi, atau pun unsur impostor syndrome dan sejenisnya yang diangkat di buku ini. Aku berani jamin ke teman-teman, bukan bacaan yang berat kok. Cara penulis menyampaikan cerita benar-benar asyik. Keberadaan beberapa tokoh di sini rupanya juga menjadi kunci dasar untuk jalan keluar dari konflik yang terjadi. Seperti halnya Rashid yang akhirnya bisa membuat Amanda sadar dan juga Tommy yang mampu menyakinkan Amanda tentang sikap ambisiusnya. Dan dari semua itu, aku menyimpulkan bahwa aku benar-benar suka bagaimana penulis menyelesaikan konflik ceritanya.  Aku suka dengan puncak klimaks-nya. Dan ternyata setelah dipikir-pikir, inti permasalahannya sepele juga teryata. Aku saja tidak habis pikir, hehe.

 Oh iya, meski begitu saat menutup lembaran terakhir buku ini, aku masih menyimpan satu pertanyaan yang belum terjawab. Sebenarnya nggak tahu juga sih, apakah ini sengaja dibuat penulisnya, atau karena akunya yang tidak begitu teliti. Yaitu kehadiran tokoh Erwin si Muka Bintik. Aku sebenarnya cukup mempertanyakan keberadaannya di sini. Dan sampai saat ending, aku tidak bisa menyimpulkan sebagai apakah dia di sini? Hmmm.

Membaca A Untuk Amanda sebenarnya juga membuat aku bercermin kepada diri sendiri. Semenjak naik ke kelas 11 ini, banyak yang bilang bahwa prestasiku menurun drastis, dan mereka memusingkan itu. Tapi anehnya, aku tidak cukup ambil pusing dengan semua itu. Bedanya dengan Amanda, dia terlalu memusingkan permasalahan ini. Padahal, kita bisa saja bersikap sok cuek seolah tak terjadi apa-apa. Dan itulah yang aku lakukan sekarang, hahahaha. Benar-benar nggak tahu diri, ya?

Overall, aku suka cara penulis mengemas ceritanya dengan begitu baik, cara menyampaikannya kepada pembaca juga mudah dipahami. Dan, bagi teman-teman yang ingin mencari bacaan ringan dengan konflik seputar dunia remaja dengan sentilan psikologis, coba baca A Untuk Amanda. Dijamin nggak bikin depresi kok, hehe.

And the last, 4 jempol untuk Amanda dan kawan-kawan…


Terima kasih!

***

“Saya bisa berkata, ribuan kali, bahwa kau memang cerdas, bukannya beruntung. Tapi apa kau akan percaya? Setiap kali mendapat A atau seratus, kau merasa seperti penipu. Di sisi lain, bila kau mendapat lebih rendah dari itu, kau merasa gagal. Saya tidak bisa menolongmu jika kau tidak menolong dirimu sendiri. Kau lebih dari ini.”
Hlm. 227

“Aku hanya ingin semua ini berhenti—semua penderitaan ini. Aku ingin tidur dan tidak perlu bangun lagi, aku ingin berhenti berada dalam tubuh ini, berpikir dengan otak ini. Aku lelah menjadi diriku.”

Hlm. 176

2 komentar:

  1. rangakaian kata-kata nya oke , bagus reviewnya. tapi aku belum bisa merangkai kata" yg tepat utk review. hahahah..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih. Mulai belajar nulis dari sekarang, perbanyak membaca juga. Dengan bagitu maka kosakata kamu akan bertambah. Aku pun sekarang juga masih belajar.

      Semangat Qi!

      Hapus