Kamis, 14 Juli 2016

[Book Review] Honeymoon for Sophie - Retha Widya



Judul : Honeymoon For Sophie
Penulis : Retha Widya
Tahun terbit : 2016
Tebal : 263 hlm
Penerbit : Bhuana Sastra
Kategori : Novel
ISBN : 9786023941162

Bisa dibeli di : bukupedia.com


Blurb:

Sophie
Sebentar lagi aku akan menikah dengan Maxi, pria paling tampan dan romantis yang pernah hadir dalam hidupku. Hidupku akan sempurna bersamanya. Aku akan menjadi Nyonya Maxi. Impian yang sebentar lagi akan menjadi kenyataan.

Mona
Aku nggak punya keinginan yang muluk-muluk, kok! Aku cuma mau ada seorang pria yang datang melamarku dan membuat semua orang berhenti bertanya kepadaku. “Kapan nikah?” Oke, sebenarnya masih ada satu lagi keinginanku, yaitu mendapatkan bos yang bukan titisan Godzilla. Simpel, kan?!

***

“Gimana orang tua kami akan percaya anaknya baik-baik saja hidup bersama pria yang berasal dari negeri antah berantah?”
Hlm. 8
Sophie:
Setelah pernikahannya dengan Maxi gagal, Sophie mengalami masa yang cukup berat. Ia frustasi, biasa-bisanya Maxi—lelaki yang selama ini ia yakini sebagai calon suami, membatalkan pesta pernikahan mereka secara sepihak pada hari H, dan…. lewat SMS! Tidak hanya stress dan frustasi yang Sophie  alami, ia juga malu dengan keluarga besarnya. Mau ditaruh mana mukanya?!

Tidak hanya itu, gagalnya pernikahan Sophie dan menghilangnya Maxi secara tiba-tiba juga meninggalkan satu fakta lain yang tak kalah mengejutkan. Hutang! Bagai jatuh tertimpa tangga, setelah merasakan stress akibat gagal nikah, Sophie juga harus menanggung hutang akibat tagihan kartu kreditnya membengkak. Ini semua gara-gara Maxi, dia yang menggunakan kartu kredit itu. Dan sekarang, dia juga yang menjerat Sophie dengan hutang-hutangnya!

Lalu, Sophie pun melakukan pencarian terhadap keberadaan Maxi. Kabarnya, kini Maxi bekerja di sebuah hotel di Bali. Tunggu apalagi? Saatnya ia terbang ke Balii….

‘Kan ku tangkap kau sampai ke ujung dunia, Maxi!’

Mona:
Mona memang tidak secantik dan ‘selaris’ Sophie, tapi ia adalah tipe wanita yang pekerja keras. Buktinya, meski ia memiliki atasan seperti Godzilla, ia berusaha sebisa mungkin untuk tetap bertahan di sana. Wow, good job Mona!

Adrian, atasannya yang galak itu ternyata juga memiliki perasaan. Berkali-kali Mona diajak makan siang bersama. Awalnya, Mona menganggap itu hanyalah sebuah hubungan yang lazim antara atasan dan bawahan. Namun rupanya bukan, saat mengetahui bahwa Adrian adalah seorang duda, dan semakin sering mereka pergi berdua, Mona meyakini bahwa ada yang tidak ‘beres’ antara dirinya dengan Adrian.

Jika Sophie gagal dengan seorang pria lajang, lantas, apakah dirinya akan berhasil dengan seorang duda?

***

“Banyak orang menganggap keluarga adalah hadiah pertama dari Tuhan untuk manusia dan kami sangat setuju dengan anggapan itu. Ada kehangatan dan rasa aman dalam sebuah keluarga. Ya, kan?
Hlm. 21

“Dengar ya, masalah ada bukan untuk dihindari, tapi dihadapi. Kalau suatu saat kamu bertemu dengan dia yang telah mencampakanmu, berikan saja dia senyuman yang paling memikat. Biarkan dia menyesal karena telah meninggalkanmu.”
Hlm. 93-94

Jika banyak pembaca yang berkata bahwa judul dengan isi cerita ini tidak sepadan, aku akui memang benar. Cerita di Honeymoon for Sophie menggunakan dua sudut pandang yang berbeda, yaitu dari Sophie dan Mona. Keduanya bercerita dengan sudut pandang masing-masing secara bergantian. Pembagian porsi antara kedua sudut pandang ini pun aku rasa juga sama banyak. Jadi, rasanya rada aneh saja kenapa judulnya lebih mengarah kepada Sophie.

Kita bahas kelemahannya dulu ya. Selain masalah judul, masalah lain juga ada pada gaya bercerita si penulis. Cara berceritanya memang ringan, macam orang curhat, tapi aku rasa ini terlalu ringan. Ada beberapa adegan yang seharusnya membuat pembaca bersimpatik, atau mungkin sedih, tapi ini tidak. Seakan tidak ada feel-nya. Aku tidak begitu prihatin saat Sophie gagal nikah. Mungkin penulis bisa mengemasnya menjadi lebih dramatis lagi agar apa yang Sophie rasakan juga bisa dirasakan pembacanya. Karena memang butuh koneksi yang kuat antara pembaca dengan cerita agar cerita tersebut meninggalkan kesan tersendiri.

Kedua, penulis terlalu banyak menggunakan teknik telling dalam menyampaikan cerita. Terutama saat menyampaikan karakter beberapa tokoh. Sarana lain, sebaiknya penulis bisa menyiasati ini dengan teknik showing, menunjukkan karakter suatu tokoh dengan cara mengutarakan bagaimana si tokoh ini bersikap, berpikir, atau bertindak. Terasa membosankan jika semua dideskripsikan secara langsung. Ketiga, sebaiknya saat bagian flashback, penulis membuatkan subplot tersendiri. Karena memang flashback-nya di sini hanya dituturkan oleh tokoh secara langsung dan terkesan nanggung. Ini sih saran dari aku, hehe.

Keempat, pergantian/perpindahan cerita di setiap part terkesan mendadak dan dipaksakan. Aku lupa pada halaman atau bab berapa tepatnya, yang jelas ada satu bab yang mana ceritanya terkesan muluk. Part satu bahas ini, part dua bahas itu, dan part tiga balik bahas ini lagi. Cerita terkesan kurang rapi dan terlalu muluk. Oya, jika disuruh membandingkan antara sudut pandang Mona dengan Sophie, aku lebih cenderung berpihak ke Mona. Kenapa? Cerita Mona lebih memiliki konflik yang kuat—yah, meskipun mudah ditebak sih. Chemistry-nya juga lebih kerasa dari pada Sophie dengan Maxi atau Bara. Tapi benar, aku lebih menikmati cerita si Mona ini ketimbang Sophie.

Oke, kita beralih ke kelebihannya ya. Pertama, untuk urusan cover, ilustrasi, sampai layout, Honeymoon For Sophie memang juara. Bisa dibilang, ini menjadi salah satu daya tarik yang kuat untuk bukunya sendiri. Tahu kan, jika sekarang banyak orang yang menilai buku dari sampulnya? Nah, aku rasa jika orang tersebut pergi ke toko buku, pasti Honeymoon for Sophie akan menjadi salah satu pilihan mereka.

Kelebihan yang kedua, karakter Mona dan Sophie benar-benar diciptakan dengan kuat dan memiliki khas tersendiri. Sifat keduanya yang saling bertolakbelakang ini membuat kita mudah untuk membedakan yang mana Sophie, dan mana Mona. Sophie yang manja, kekanak-kanakkan dengan Mona yang dewasa dan pekerja keras. Oya, nuansa metropop sangat terasa sekali di buku ini, aku suka!

Kelebihan yang ketiga, tokoh Kethrine di sini menjadi magnet tersendiri bagi pembaca. Kenapa? Karena dengan sikapnya yang nyablak, lawak, dan periang, membuat nuansa komedi di buku ini terasa banget. Bisa dibilang Kethrine ini sangat membantu lah dalam meramaikan cerita. Seenggaknya, cerita tidak hanya berpusat pada Sophie atau pun Mona. Adegan favoritku adalah saat Keth mengajak Mona pergi ke resepsi pernikahan orang tak dikenal hanya demi mendapat makanan, hwahahaha.

Keempat, aku suka bagaimana penulis menyelesaikan cerita ini. Rasanya lega, setelah semua masalah yang dihadapi tokohnya, akhirnya mereka bisa mendapat buah dari apa yang mereka lakukan selama ini. Terakhir, buku ini cocok dibaca jika kalian sedang bersantai, menunggu bisa di halte, atau antri di bioskop, ceritanya ringan, mengalir banget, dan yang terpenting… menghibur.

3 Jempol untuk Honeymoon for Sophie…


Terima kasih!

***

“Bagiku wanita yang hanya mengandalkan kecantikan itu bodoh. Kecantikan itu seperti asset yang setiap harinya menyusut. Setiap hari nilainya terus menurun. Aset-aset seperti itu nggak bernilai…”

Hlm. 215

Tidak ada komentar:

Posting Komentar