Minggu, 22 Januari 2017

[Book Review] Melankolia Ninna - Robin Wijaya



Judul : Melankolia Ninna (Blue Valley)
Penulis : Robin Wijaya
Tahun terbit : 2016
Cetakan : Pertama
Tebal : 219 hlm
Penerbit : Falcon Publishing
Kategori : Novel
 ISBN : 978 – 602 – 60514 – 1 – 7 


Blurb:

Di pojok selatan Jakarta, kau akan menemukannya. Tempat itu tak sepanas bagian Jakarta lainnya. Langit di sana sering berubah seolah mengikuti suasana hati penghuninya. Kau akan bisa menemukannya dengan mudah. Ada banyak rumah di sana. Orang menyebut tempat itu Blue Valley.

Dari gerbang, ambillah jalan ke kanan, dan temukan satu-satunya rumah yang berpagar. Kau tidak akan salah. Pemiliknya adalah sepasang suami istri. Sang suami pandai merupa kayu-kayu menjadi perabot yang indah, sedangkan sang istri menata rumah dengan nuansa vintage yang meneduhkan. Bersama-sama, keduanya menghidupkan ruang impian mereka: sebuah kamar bayi yang dipenuhi warna.

Namun, duka menghampiri. Sang istri kehilangan rahimnya sebelum sempat mengandung impian mereka. Menyisakan luka yang mewujud sebuah melankolia. Gamal dan Ninna, menatap pupus harapan, seperti hidup yang hanya menyisakan warna kelabu saja.

***

“Kita sebetulnya sama-sama sakit, tapi saling menyembunyikan perasaan kita masing-masing.”
--Ninna—

Selamat datang di cluster Blue Valley. Di rumah bernomor 19, kalian akan menemukannya. Sepasang suami istri yang kini sedang memandang penuh keputusasaan harapan terbesar mereka. Ninna, istri dari Gamal—Ketua RT di Blue Valley—baru saja menjalani operasi pengangkatan rahim. Keadaan itu tentunya membuat semua hal yang sudah dipersiapkan oleh sepasang suami istri itu terkait kehadiran sang buah hati mereka, menjadi sia-sia. Dan yang terjadi adalah, mereka menyumbang seluruh perlengkapan bayi yang pernah mereka beli ke panti asuhan.

Gamal dan Ninna sama-sama berduka dengan cara mereka sendiri. Ninna, memutuskan untuk kembali bekerja di perusahaan yang pernah ia tempati sebelumnya demi mengurangi kesedihannya. Namun tahukah kalian, ternyata kesedihan itu tidak benar-benar bisa tersingkirkan. Buktinya, Ninna seringkali masih terlihat menyimpan satu-dua helai pakaian bayi di lemari pakaiannya.

Kejadian yang serupa juga terjadi pada Gamal. Laki-laki itu, kini kembali tenggelam dalam aktivitasnya sebagai furniture-man. Dan, namanya memang manusia, duka terkait harapannya yang pupus karena tidak bisanya menimang  buah hati, ternyata tidak bisa ia abaikan begitu saja. Sama seperti Ninna, Gamal juga memiliki cara untuk berduka. Baby crib yang pernah ia buat untuk si calon bayi, yang belakangan diketahui sudah ia bongkar dan disimpan di gudang, diam-diam ia rakit kembali. Sederhana sebenarnya, Ninna dan Gamal sama-sama tidak ingin kehilangan kenangan fiktif tentang kehadiran sang buah hati yang sudah mereka coba ciptakan selama ini.

Lantas, jika keadaan terus menerus seperti ini, akankah mereka bisa hidup bahagia seperti sedia kala?

Namun sayangnya, masalah tidak berhenti di titik itu saja. Dan ketika masalah lain itu datang, kini, rumah tangga mereka sedang ada di ambang kehancuran. Alam dengan teganya kembali menguji hubungan mereka.

Tuhan, jalan cerita seperti apakah yang Kau tulis untuk akhir kisah mereka?

***

“Aku nggak mau kehilangan kamu sekarang. Cukup sebagian mimpi kita saja yang hilang. Yang lainnya jangan. Karena kamu, Nin, kamu adalah sebagian mimpiku yang lainnya.”
Hlm. 37

“…impian aku adalah tumbuh tua bersamamu. Menghabiskan sisa waktuku bersama kamu. Kamu adalah sebagian mimpi-mimpiku, Nin.”
--Gamal--

Melankolia Ninna menjadi buku keempat dari seri Blue Valley yang kubaca, dan sekaligus ini menjadi awal perkenalanku dengan tulisan Kak Robin Wijaya. Harus aku akui, memang ini menjadi buku domestic drama terbagus yang kubaca setelah Critical Eleven dan Test Pack.

Sebelum masuk ke inti review, perlu diketahui, bahwa dari keempat buku Blue Valley yang sudah kubaca, Melankolia Ninna ini adalah yang paling ramai. Ramai dalam artian, banyak sekali scene yang menghadirkan tokoh-tokoh dari novel Blue Valley lain. Kecuali dari Elegi Rinaldo tentunya, karena yang kudengar Rinaldo adalah sosok yang sangat individualis. Bagusnya kehadiran mereka juga tidak selewat lalu. Namun juga ikut mewarnai cerita dengan satu-dua obrolan singkat dengan Ninna mau pun Gamal. Secara, Gamal di sini juga berperan sebagai Ketua RT, jadi tak bisa dipungkiri kalau keadaan ini membuat ia harus banyak berinteraksi dengan warganya.

Harus kuakui, aku selalu tidak berdaya dengan buku yang menggunakan teknik penggunaan sudut pandang seperti di buku ini. Sudut pandang orang pertama secara bergantian dari dua tokoh utama. Ok, sudah cukup kubuktikan di buku Somewhere Only We Know – Alexander Thian, Critical Eleven – Ika Natassa, dan Test Pack –Ninit Yunita. Ketiga buku tersebut sangat berhasil mengaduk emosiku cukup dalam dan mengenal tokoh dengan baik secara luar-dalam. Sama seperti buku ini, diceritakan lewat sudut pandang Gamal dan Ninna secara bergantian, penulis memberiku ‘jalan’ untuk menyelami kepribadian, pola pikir, dan watak dari tokoh utamanya. Juga dengan beberapa monolog—terutama dari Gamal—yang ada di banyak tempat, membuatku sangat suka sekali. Kurasa, teknik seperti ini sangat cocok dan mudah jika seorang penulis ingin membuat pembacanya terikat langsung secara emosional bersama konflik dan jalan cerita tokoh utamanya.

Duka dan emosi yang dialami oleh kedua tokoh utamanya benar-benar sampai dengan sangat baik. Hal ini secara tidak langsung turut membukakan fakta kepada kita bahwa kehidupan rumah tangga itu tidak mudah. Namun bersama Ninna dan Gamal, kita tidak hanya diajak untuk bermuram durja saja bersama konflik utama mereka, melainkan juga diajak untuk menemukan jalan tengah dari konflik tersebut. Sangat realitis sekali memang apa yang penulis hadirkan di sini. Untuk tokoh Gamal sendiri, aku perlu acungi jempol untuk karakter yang sudah penulis bangun. Sebagai seorang suami, Gamal sudah memenuhi satu kriteria terpenting, yaitu dewasa dan bijaksana. Hebatnya, dia berhasil menemukan titik terang dari permasalahannya sendiri bahkan saat sedang dalam kondisi terburuk sekalipun.

Terlepas dari semua itu, aku cukup menyayangkan saat mengetahui bahwa buku ini menurutku tidak lepas dari nuansa Critical Eleven. Mohon maaf sebelumnya, tapi aku merasa ada beberapa kesamaan seperti konflik utamanya yang berputar pada satu hal: anak—kehamilan—kehilangan—duka, dan sebagainya. Meski aku sangat yakin penulis tidak ada sedikit pun niat untuk menyamai, namun untukku sendiri—yang membaca CE lebih dulu—jelas merasa itu ada kemiripan. Lalu, kebiasaan Ninna yang secara tidak sengaja juga hampir sama dengan kebiasaan Anya di CE, yaitu menyimpan pakaian bayi sebagai bentuk duka mereka. Bedanya, jika di novel itni, kebiasaan Ninna tersebut tidak begitu dipertegaskan seperti di CE. Kemudian, surprise ulang tahun Gamal yang juga mengingatkanku dengan surprise ulang tahun Ale. Memang tidak sama persis, namun keadaan yang terjadi saat itulah yang membuatnya agak sama. Yaitu terjadi saat kedua pasangan ini sama-sama berselisih dan harus pura-pura mesra di depan keluarga.

Dari beberapa kemiripan itu, aku cukup berlega hati karena konflik yang dihadirkan di novel Melankolia Ninna terasa lebih logis dan masuk akal ketimbang di CE yang cenderung dangkal. Namun tetap saja, karena aku sudah membaca CE sebelumnya, jadi saat aku baca buku ini dan ternyata juga menghadirkan nuansa yang sama, jadi tidak bisa dipungkiri kalau aku bilang ada kemiripan di dalamnya. Meski sebenarnya, aku tegaskan sekali lagi, bahwa aku yakin Kak Robin Wijaya tidak ada niat untuk menyamainya. Sederhana saja, ini hanya kebetulan.

Melankolia Ninna adalah sebuah cerita domestic drama yang menyoroti kisah duka dari dua tokoh utamanya. Bagaimana mereka berduka, dan jalan tengah seperti apa yang mereka ambil setelahnya, adalah ajaran penting yang coba penulis sampaikan dalam buku ini. Semoga bermanfaat!

Terima kasih!

***

“I think I have found the right person to walk with me. Side by side. Till the end of time. It’s you, Nin. It’s always been you. I know from the bottom of my heart.”

Hlm. 128

2 komentar:

  1. Wah ada statement kalo di CE konfliknya dangkal... Oh, saya harus sempatkan baca buku ini juga. Hehehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Agak dangkal sih, hehe. Harus, recommended!

      Hapus