Sabtu, 12 November 2016

[BLOGTOUR #2] Book Review: The Bond - Eve Shi



Judul : The Bond
Penulis: Eve Shi
Editor: Prisca Primasari
Proofread: Tharien Indri
Sampul: Dwi Anissa Anindhika
Layout: Gita Mariana
Tahun terbit : Agustus 2016
Tebal : 248 hlm
Penerbit : TWIGORA
ISBN 978-602-74924-0-0 

Blurb:

Aku akan memberitahumu sebuah cerita yang membuatku sangat tidak nyaman. Semuanya dimulai ketika aku menemukan sejumlah kaset peninggalan mendiang Mama. Mendengar kembali suara orang yang seumur hidup kau cintai menghangatkan hati dan jiwamu. Tapi yang aku temukan tak hanya itu. Mama bilang, ada sesuatu yang mencurigakan tentang rumah yang sedang aku tempati ini. Sesuatu yang belakangan membuatku terlibat dalam urusan masa lalu yang belum tuntas.

Sepanjang cerita, aku akan menyebutkan sejumlah karakter; ada yang penting, dan ada juga yang hanya selewat lalu. Ada yang membuatku berdesir hangat, ada juga yang berniat menikamku dan mewarnai akhir cerita ini dengan lumuran darah.

Di situ jugalah letak masalahnya: aku benar-benar tak bisa membedakan mereka....

***

*Psssttt.. yuk baca ini juga: Kriiing Kriiing Penulis bersama Eve Shi..*

Sejak Mamanya meninggal, Nina—seorang desainer grafis muda—yang tinggal di sebuah kamar kos kecil di Jakarta, harus terpaksa mengalokasikan dirinya untuk sementara waktu ke rumah mendiang Mama di daerah Bintaro. Apalagi kalau bukan untuk membereskan barang-barang peninggalan Mama yang cukup menumpuk itu. Sebagian barang yang masih berguna mungkin akan disumbangkan, dan sisanya bisa saja Nina simpan atau bahkan diserahkan ke pengumpul barang bekas.

Dari semua barang yang ia bereskan tersebut, Nina menemukan sebuah kotak kaca buram yang merupakan wadah dari empat keping kaset kuno. Benda itu tidak Nina ketahui sebelumnya karena kebetulan letaknya sangat tersembunyi, di sudut dalam bawah lemari, dan tertutupi tumpukan sprei. Dengan asumsi bahwa kaset itu adalah benda berharga peninggalan Mama, Nina memilih untuk menyimpan benda itu, dan mendengarkan isi yang terekam di setiap keping kasetnya.

Entah atas dorongan apa, beberapa hari setelahnya Nina memilih mengasingkan diri untuk sementara waktu ke rumah Belanda. Rumah dengan gaya kuno dan klasik tersebut merupakan warisan dari generasi keturunan Mamanya. Rumah yang kosong, hanya diisi oleh dua orang penjaga, dan mungkin juga sebuah keluarga apabila ada yang mengontraknya. Namun kebetulan, saat itu tidak ada keluarga yang sedang mengontraknya, jadilah Nina di sana dengan ditemani dua orang penjaga, Pak Kadi dan Bu Tuti.

Di rumah yang menyuguhkan kesan mistis itulah, Nina mulai mendengarkan isi rekaman dari setiap keping kaset milik mendiang Mamanya. Satu per satu kaset ia putar. Rekaman di setiap kaset tersebut bercerita tentang diary  Shava—Mama Nina—di masa mudanya ketika bersama sang adik, Daven dan Bunda Shava/Nenek Nina. Tidak hanya sampai di situ, rekaman kaset tersebut rupanya juga membawa Nina ke satu permasalahan serius yang rupanya belum sempat terselesaikan. Yakni tentang misteri yang selama bertahun-tahun bersemayam di rumah Belanda, tanpa satu orang pun yang berhasil mengungkapnya.

Tentang rasa kesepian. Tentang kematian yang tak diketahui sebabnya. Dan, tentang misteri-misteri lain yang masih menjadi satu ikatan, belum terurai ke permukaan….

***


The Bond menjadi buku pertama dari Eve Shi yang aku baca. Sebelumnya, aku merasa senang sekali karena bisa dipertemukan kembali dengan genre favoritku, horor dan misteri. Setelah sekian lama berkubang di arena romance, akhirnya bisa kembali merasakan nuansa tegang bersama novel The Bond.

Sebelumnya, perlu diketahui, bahwa The Bond selain disebut novel horor, juga merupakan novel misteri. Jadi, saat membaca buku ini, kalian tidak hanya akan menemukan kesan seram yang digambarkan lewat kemunculan beberapa tokoh gaib saja, melainkan juga diajak untuk memecahkan misteri yang cukup runyam. Kisah mellow tentang hubungan kekeluargaan atau drama keluarga juga menjadi pemanis tersendiri untuk buku ini. Aku cukup suka pada saat menjelang ending, penulis turut mengungkap satu twist tentang keluarga Nina yang tidak tercium oleh pembaca di bagian-bagian sebelumnya. So, jika dianalisa, maka novel The Bond tidak hanya mengungkap misteri tentang ‘keluarga lain’ di rumah Belanda, tapi juga keluarga Nina dan Shava sendiri.

Kemudian, jika disuruh membagi ketiga unsur cerita tersebut ke dalam bentuk presentase, maka hasilnya adalah begini: horor 20%, misteri 40%, dan drama keluarga 40%. Kesan horor yang dihadirkan lewat tokoh Eira, Taruna, maupun kejanggalan-kejanggalan yang sempat penulis selipkan di beberapa bagian, cukup mampu membuat bulu kuduk ini berdiri. Namun jika hal tersebut dibandingkan dengan kedua unsur lainnya, misteri dan drama keluarga, maka tidak terlalu kentara. Aku suka sekali dengan kepingan-kepingan misteri yang penulis tebar di beberapa bagian di awal cerita. Dari situ, kita akan diajak untuk turut menganalisis apa yang melatarbelakangi misteri tentang Rumah Belanda dan segala isi yang tersimpan di dalamnya tersebut. Bermodalkan keping kaset milik Shava, dan segala usaha yang Nina lakukan, kita akan ikut mencoba mencari hipotesis-hipotesis dari beberapa permasalahan yang dihadirkan.

Sebenarnya, sampai akhir cerita aku tidak memiliki spekulasi atau dugaan apa pun tentang jawaban dari misteri kehidupan Shava-Daven mau pun Eira-Taruna. So, saat penulis dengan tiba-tibanya mengungkap benang merah dan menyebut beberapa nama sebagai dalang utamanya, aku cukup terkejut setengah mati. Wow, sangat tidak menyangka sekali. Sebenarnya, bisa dibilang untung juga karena aku nggak naruh spekulasi apa-apa untuk menebak misteri ceritanya, karena dengan begitu aku bisa merasa dikejutkan. Coba kalau misal aku memendam spekulasi dan ternyata spekulasiku tersebut benar, pasti aku tidak akan merasa mendapat surprise seperti yang sudah terjadi.

Pemilihan Rumah Belanda sebagai latar utamanya pun sangat berhasil menjadi elemen pendukung yang baik untuk memperkuat kesan mistis di cerita ini. Pendetilan setiap suasana dan keadaannya, sangat mampu membuat pembaca menciptakan bayangan fiktif di otak terkait apa yang sedang diceritakan oleh penulis. Dan sedikit banyak juga mampu meremangkan suasana yang aku alami saat membacanya. Selain itu, segala hal berbau kuno pada tahun 80-an cukup banyak dimasukkan pada saat penulis membawa kita pada alur cerita mundur. Bagaimana masyarakat melakukan komunikasi jarak jauh, fasilitas umum apa saja yang tersedia pada saat itu, dan segala elemen pendukung lainnya tentang sebuah kota besar di era klasik terlihat sangat nyata sekali. Seperti halnya fenomena bemo yang masih marak, penggunaan wartel sebagai alat komunikasi jarak jauh yang utama, dan tradisi berkirim surat. Hal ini tentu sangat terlihat k0ntras sekali apabila kita membandingkannya dengan keadaan masa sekarang yang penulis hadirkan lewat tokoh Nina di era 2000-an.

Kemudian, aku rasa tidak saatnya untuk membahas konflik, alur, maupun penokohan di novel ini. Semua  disajikan dengan cukup baik, tanpa gangguan berarti. Permainan emosi tokohnya dan pola pikir mereka sangat relevan sekali dengan tema misteri yang dihadirkan. Alur campuran yang digunakan pun mampu memberi sekat bagi pembaca untuk sekadar bernapas sejenak memikirkan kemungkinan-kemungkinan lain yang akan dihadirkan penulis di bagian selanjutnya. Yang jelas, secara keseluruhan, novel ini lengkap. Tidak hanya mengajak pembaca untuk bermain memecahkan misteri, tapi juga mengajarkan betapa berharganya keberadaan keluarga. Sayangi dan pedulikan mereka selagi masih ada kesempatan. Sebisa mungkin, hindari rasa penyesalan yang timbul karena kita tidak memedulikan keberadaan keluarga, terutama Ibu.

The Bond, tidak hadir untuk menakut-nakuti, melainkan mewanti-wanti….

***

Sebelum ke photo challenge, yuk intip dulu quote-quote manis dari Novel The Bond berikut, cekidoott:







PHOTO CHALLENGE!

Helo, ini adalah photo challenge pertamaku dalam rangka BlogTour bersama penerbit Twigora! Aissh, sebenarnya kemarin bingung mau foto kayak gimana, pose model photo challenge-nya susah euy untuk ukuran cowok, wkwkwk. Tapi, alhasil ya beginilah. Habis mandi bedakan tepung, hwehehehee…..


*Psssstttt… setelah ini ada gratisan. Jangan lupa berkunjung ke sini ya:

34 komentar:

  1. Dan dari membaca reviewe satu persatu di host blog tour, The Bond, aku jadi semakin penasaran dama novel ini. Apalgi genre horor gitu, suka banget, gara-gara sering dihororin sama makhluk gituan, eh hehh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wooohhh beneran sering dihororin nih Kak Ratna? Waaahhh pasti pas baca ini nanti bisa lebih menghayati, hwehehe.

      Hapus
  2. Settingnya rumah belanda.. Apa arwahnya noni2 belanda ?.. Makin penasaran dengan petualangan apa saja yang akan Nina lakukan untuk mengungkap misteri rumah peninggalan mamanya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hayooo siapaa arwahnya? Hehe. Tema misterinya dikemas dg seru banget loh, semoga bisa berkesempatan baca ya :D

      Hapus
  3. Ya ampyun model imitasinya lbh sereeemmm

    BalasHapus
    Balasan
    1. WKWKWKWKWK. Ati2 ntar kebawa mimpi :D

      Hapus
  4. Balasan
    1. Ngga ah, masih unyu gitu, wkwkwkwk

      Hapus
  5. ya ampun bin model imitasinya bikin ngakak, bukannya ngeri *plak xDDD itu kamu pakai bedak ya, mukanya jadi putih gitu xDDD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahahaha ngakak ya? Itu abis mandi Kak Eni, langsung diolesin tepung, wkwkwkwk. Kalo pake bedak takut ilangnya susah :D

      Hapus
  6. Ceritanya kayak mengenang zaman mbah-mbah kita ya.. Jadi penasaran pengen langsung renunian bersama novel kak eve The bond ini.
    Hihi.. Model imitasinya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha bener bangeett. Ceritanya dominan di tahun 80an. Model imitasinya oke kan? Wkwkwkwk

      Hapus
  7. Noni belanda...
    "Bang, satenya 100 tusuk."
    👆👆 ini mah susana 😒😒

    BalasHapus
    Balasan
    1. Duh, satenya abis neng, wkwkwkwkwk

      Hapus
  8. seperti masuk lorong waktunya menuju zaman-zaman dahulu kala, yang ada Belandanya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yuupp bener sekali, tapi ceritanya ga ada kaitannya sama bangsa2 Belanda. Cuma settingnya aja di rumah yang dibangun sejak jaman Belanda :D

      Hapus
  9. Model imitasinya gak pokus ke kamera nih...hahaha #gagalfokusreview

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha, tapi keren nggak? *yang ada malah ngakak*

      Hapus
  10. yg bikin penasaran ya ttg rahasia rumah belanda itu :3 sungguh aku sangat penasaran.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Penasaraaan kan? Banyak banget loh misteri yang terpendam di dalamnya, semoga bisa berkesempatan baca yaa :))

      Hapus
  11. DUHHH YANG KANAN KOK LEBIH SEREM :O

    *caps jebol*

    BalasHapus
  12. Salfok ma model imitasinya... saya malah penasaran siapa yang motoin hahaha #PEACE

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha, itu hp-nya saya taruh di atas kursi, terus belakangnya disangga ama tumpukan buku, hehehe

      Hapus
  13. Misteri yg diusung kak eve sukses bikin aku penasaran karena genre fav aku. Tp karena ada kesan horor membuat aku antara maju dan mundur buat baca.. Dan syukurlah direview kali ini bilang horornya cuman dikit:D gasabar baca kisah si kaset dan rumah belanda

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, horor nya ga seberapa kok. Semoga beruntung di GA nya yaa :))

      Hapus
  14. Eira-Taruna siapa? Arwah yang minta ditenangkan kah? By the way itu model imitasi tangannya salah sebelah :D coba matanya liat kamera pasti.lebih syereem

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hmmmm siapa ya? Baca aja nanti bukunya hehe. Iya nih, pas foto aku ga terlalu merhatiin model aslinya, huhuuu...

      Hapus
  15. Mau nyoba-nyoba genre horor satu ini karena penasaran.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga bisa berkesempatan nyoba ya, heheheh. *baju kali ah dicoba*

      Hapus
  16. buku ini bikin merinding tapi juga penasaran

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hayolooooo, yang bener, merinding apa penasaran? hahahah. Good luck ya kk

      Hapus