Sabtu, 24 Februari 2018

Holy Mother: Penyalahgunaan Kesucian




Judul : Holy Mother
Penulis : Akiyoshi Rikako
Tahun terbit : 2016
Tebal : 284 hlm
Penerbit : Haru
Kategori : J-Lit
ISBN : 978 – 602 – 7742 – 96 – 3




Blurb:

Terjadi pembunuhan mengerikan terhadap seorang anak laki-laki di kota tempat Honami tinggal. Korban bahkan diperkosa setelah dibunuh.

Berita itu membuat Honami mengkhawatirkan keselamatan putri satu-satunya yang dia miliki. Pihak kepolisian bahkan tidak bisa dia percayai.

Apa yang akan dia lakukan untuk melindungi putri tunggalnya itu?

***







Sebuah pembunuhan sadis terjadi di kota tempat Honami tinggal. Korbannya adalah anak laki-laki. Ironisnya, saat ditemukan pertama kali, kondisi mayat dari anak laki-laki itu sangat mengenaskan. Telanjang, dan alat kelaminnya terpotong. Namun anehnya, si pembunuh tidak meninggalkan jejak apa pun di tubuh korban. Hal ini membuat tim forensik kesusahan untuk mengungkap siapa pembunuhnya.

Honami, seorang Ibu muda dari putri cantik bernama Kaoru, merasa khawatir akan keselamatan anak tunggalnya itu. Terlebih, tak lama setelah itu, muncul lagi korban berikutnya. Tidak berbeda jauh. Seorang anak laki-laki dengan kelamin terpotong, dan yang mengejutkan, kesepuluh jari tangannya juga ikut terpotong.

Melihat kondisi yang kian mengkhawatirkan, Honami berkali-kali menghubungi kepolisian untuk memastikan apakah pembunuh itu sudah berhasil ditemukan atau belum. Namun, karena usaha dari tim kepolisian tidak juga membuahkan hasil, maka Honami berniat untuk mencari sendiri siapa pembunuhnya. Hal itu ia lakukan semata-mata untuk melindungi putri semata wayangnya.

Apakah Honami akan berhasil, atau mungkin anaknya lah yang akan menjadi korban berikutnya?

***

Holy Mother adalah buku ketiga dari Akiyoshi yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Namun, aku membaca buku ini setelah Scheduled Suicide Day—jadi bisa dibilang ini menjadi buku keempat dari penulis yang kubaca.

Mengekori kesuksesan dari dua buku sebelumnya, Holy Mother hadir dengan cerita yang tidak jauh berbeda. Pembunuhan. Yang membedakan di sini adalah, tokoh dan lingkungan yang dihadirkan bukan lagi seputar remaja atau sekolah, yang mana selama ini menjadi ciri khas penulis.

Dengan menghadirkan tokoh dan gaya bercerita yang dewasa, Holy Mother rupanya tetap tidak bisa lepas dari identitas Akiyoshi Rikako yang nyentrik. Mengundang penasaran, memancing dugaan-dugaan, dan bahkan meledakkan tamparan-tamparan, yang akhirnya menimbulkan banyak umpatan, hahaha.

Sebelumnya, tentu aku sudah cukup sering mendengar gaung dari novel satu ini di kalangan pecinta buku, terutama dari goodreads. Uraian yang positif dan penuh pujian membuatku kembali berekspektasi tinggi setelah sebelumnya sempat merasa down grade dengan SSD—Scheduled Suicide Day.  

Seperti halnya novel thriller pada umumnya, satu permasalahan utama yang membuat pembaca menekuni ceritanya sampai akhir adalah untuk mencari tahu tentang siapa pembunuhnya. Kedua, atas motif atau dasar apa dia melakukan itu. Namun—aku tidak tahu ini bisa disebut sebagai kabar baik atau buruk—di buku ini, kita akan diberitahu tentang siapa pembunuhnya sejak awal cerita. 

Seketika aku bertanya-tanya, diakah? Is that true?

Tapi aku sudah cukup tahu bagaimana permainan Akiyoshi Rikako. Oke, penulis mungkin memang sudah mengarahkan kita ke bagian tentang siapa pembunuhnya. Tapi meski begitu, aku tidak bisa percaya begitu saja. Aku tetap menjaga asumsi awalku, bahwa Akiyoshi adalah seorang penipu yang lihai. Tidak mungkin akan semudah ini.

Dan begitu tiba di akhir cerita, penulis sukses membuatku termenung. Sangat di luar pikiran, bahkan ini lebih gila dari kemungkinan-kemungkinan liar yang sebelumnya sudah aku pikirkan. Karena merasa tidak terima, aku coba untuk kembali membolak-balik halaman demi halaman, berusaha menemukan satu-dua potong kejadian, dan menyusunnya menjadi satu. Miris, cerita sedemikian rumitnya itu,  bahkan tidak ada plothole sama sekali.

Padahal saat itu aku sangat berharap agar bisa menemukan plothole yang mungkin bisa aku gunakan sebagai bahan untuk mematahkan cerita beserta twist yang sudah dibuat penulis. Tapi yah, Akiyoshi memang terlalu sempurna untuk dicari cela kesalahannya. Aku tidak habis pikir, berapa lama dia menyusun konsep cerita seperti ini, dengan tanpa meninggalkan satu pun celah untuk dicari kesalahannya.

Seketika, novel ini mengingatkanku dengan salah satu novel thriller terbaik karya penulis Ruwi Meita, Misteri Patung Garam. Di mana, dalam novel tersebut, secara samar namun jelas, kita juga  ditunjukkan tentang siapa pembunuhnya.  I don’t want to tell you more about how the story was. Yang jelas, satu hal yang perlu kalian garisbawahi, Holy Mother sama seperti Misteri Patung Garam, sebuah novel tentang permainan tipu daya identitas.

Last but not least, specially for the writer, thank you for inviting me to enter your game. It was not a common game, I know. The game that you created was not like any other game.  It was not fun, really. But, don’t know why, I always excited for your next ‘crazy’ game.


You did good! Send much loveee!!!

2 komentar:

  1. Yang SSD malah saya belum baca. Entah kenapa yang buku ini pun saya tidak terlalu terkesan. Mungkin karena deskripsinya panjang dan pembunuhannya tidak detail dalam kesadisannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku malah terkesan banget daripada SSD

      Hapus