Kamis, 19 Mei 2016

[Book Review] Perfect Love - Dewi Puspita Sari



Judul : Perfect Love
Penulis : Dewi Puspita Sari
Tahun terbit : 2016
Tebal : 261 hlm
Penerbit : Indie (Self Publishing)
Kategori : Novel 

Blurb:

Nathasya pergi ke Bali dengan satu misi khusus. Yaitu menaklukkan hati Alfa Mahardika yang tampan, sukses dan sedikit misterius. Sempurna di matanya.

Namun ketika Nath memutuskan untuk mengajak Adam untuk ikut, ia malah terjebak pada situasi paling aneh yang pernah terjadi dalam hidup.

Makan malam romantis saat matahari terbenam, wisata malam, piknik di tepi pantai menunggu matahari terbit yang seharusnya disiapkan Alfa untuknya, malah dilakukan oleh Adam, kakak tirinya sendiri yang sangat suka mengatur dan memerintah tapi juga luar biasa jail.

***

“Kalau lo memang mau menarik perhatian laki-laki, lo harus biarkan dia melihat apa yang ada dalam diri lo. Bukan dari penampilan luar lo aja. Bukan dari kecantikan fisik karena wajah dan keseksian tubuh suatu hari itu akan hilang. Tapi kecerdasan, kedewasaan, dan hati yang baik nggak akan pernah hilang sampai kapan pun. Itu yang lebih penting dari semuanya. “
Hlm. 37 – 38

“Aku takut tidak bisa lagi mengendalikan diri. Sejak sentuhan itu, sejak setiap kecup lembut yang ia berikan, Tak pernah sekali pun aku berhenti memikirkannya. Tak pernah berhenti aku mendambakannya. Rasa rindu yang kian membuncah membuatku tak mampu berhenti bermimpi dan berdoa agar Tuhan mengijinkan aku untuk bisa bersamanya.”
Hlm. 173

Pada kenyatannya, cinta memanglah sesuatu yang tak bisa dipaksakan dan dikendalikan. Pada siapa kita jatuh cinta, kita tidak bisa menentukannya. Karena rasa itu datang begitu saja tanpa meminta izin terlebih dahulu. Cinta bisa saja datang dari teman terdekat, orang asing, tetangga, atau bahkan saudara tiri. Ya, bisa saja kita menyimpan rasa kepada orang yang berstatus sebagai ‘kakak’ atau ‘adik’ kita sendiri.

Jika kamu mengalaminya, berarti kehidupanmu tak jauh berbeda dengan Nathasya dan Adam. Mereka dipertemukan karena pernikahan orang tua mereka yang sudah lama menyandang status single parent. Keduanya bersama dengan menyandang status sebagai saudara tiri. Hingga saat ini, saat mereka tumbuh dewasa dan mulai mengenal kata cinta. Kepribadian dan suguhan fisik Nath yang menarik di mata Adam, ternyata berhasil menghisapnya ke satu titik di mana rasa itu muncul. Tidak jauh berbeda dengan Adam, Nath pun juga merasakan hal yang sama. Sikap Adam memang terkenal posesif, tapi itu semua seakan termaafkan oleh Nath karena perlakuannya yang sangat peduli dan kelewat sayang terhadap Nath.

Keduanya pun jatuh pada titik yang sama. Jatuh cinta. Sebenarnya ada ketakutan dan keraguan antara Nath dan Adam terhadap hubungan mereka yang terbilang ‘tidak biasa’ itu. Namun, sebisa mungkin mereka berusaha untuk mengabaikannya.

Tapi, apa jadinya apabila ketakutan itu bertambah besar? Akankah cinta mereka akan bisa dipertahankan… atau justru pudar seiring bertambah besarnya ketakutan itu?

***

“Maaf. Tapi sejak dulu aku selalu menganggap kamu kakakku. Aku sayang kamu sebagai kakak. Dan akan selalu seperti itu.”
Hlm. 202

“Semua ciuman itu, semua yang sudah terjadi beberapa bulan terakhir ini. Kamu nggak mungkin membalas ciumanku kalau kamu memang menganggapku sebagai kakak.”
Hlm. 203

Perfect Love adalah buku self publishing pertama yang aku baca. Tapi, meski begitu, sangatlah tidak baik apabila kita langsung mengambil kesimpulan bahwa buku ini jelek. Bukan, bukan seperti itu. Kualitas buku tidak bisa dilihat dari mana buku itu ditulis dan diterbitkan, bukan? Justru, akhir-akhir ini, buku-buku dari penerbit indie atau pun self publishing lah yang banyak menarik minat banyak pembaca. Sebut saja Raden Mandasia, Mermaid Fountain, Gadis Penenun Mimpi, dan lain-lain. Aku rasa, penulis pemula yang menerbitkan bukunya lewat jalur indie adalah penulis yang memiliki tekad kuat, dan bisa membuktikan bahwa mereka benar-benar berkualitas. Semoga saja ini bisa menjadi jalan bagi penerbit mayor untuk menampung para penulis-penulis kreatif ini. Aamiin.

Bagiku, hanya satu kekurangan besar yang sangat identik dengan buku terbitan indie / self publishing. Tak lain tak bukan adalah salah penulisan atau typo. Kadar salah penulisan di Perfect Love ini terbilang cukup banyak dan agak mengganggu. Selain itu ada juga pemenggalan kata yang kurang tepat sehingga membuat aku kerap kali tidak nyaman saat membacanya. Pengunaan tanda baca juga perlu diperhatikan menurutku. Salah meletakkan tanda baca juga berarti bisa mengubah maksud dari kalimat tersebut. Namun, aku cukup memaklumi sih untuk kasus seperti ini. Karena di sini penulis tidak didukung oleh tangan editor yang canggih. Apa-apa serba sendiri, duh jadi kayak lagunya Chacha Handika, haha.

Ok, meski begitu, segala bentuk kesalahan di buku ini bisa tertutupi lewat ide cerita yang sangat menarik yang diangkat oleh Kak Dewi. Cinta terlarang dari sepasang saudara tiri menurutku adalah satu problematika khusus yang menarik untuk diselami. Aku suka bagaimana penulis menciptakan chemistry antara Nathasya dan Adam. Aku juga suka bagaimana relasi antara mereka. Sikap Nath yang manja, tidak bisa ditentang, dan sikap Adam yang cenderung posesif dan pengertian merupakan perpaduan yang asyik. Kerap kali gemas saat melihat mereka beradu pendapat. Dengan mengedepankan ego masing-masing, kedua tokoh ini berhasil menciptakan emosi yang kuat bagi para pembaca.

Oh iya, aku juga memeringatkan bahwa buku ini banyak diselingi oleh adegan-adegan intim. Jadi memang tidak semua kalangan bisa membacanya. Dibutuhkan usia belasan tahun ke atas untuk bisa membaca buku ini. Memang, novel ini tergolong ke dalam kategori bacaan dewasa. Tidak terhitung berapa kali penulis menghadirkan scene kiss-kiss’an yang cukup bikin kipas-kipas, hahaha. Bahkan bisa dibilang, beberapa hot scene tersebut sangat mendominasi dari awal sampai akhir cerita. Selain itu, pada awalnya aku cukup merasa bosan saat sampai di pertengahan buku. Karena mulai dari situ, aku tidak menemukan kejelasan bagaimana hubungan Nath dan Adam ini akan berjalan. Seolah-olah tidak memiliki arah yang pasti. Keduanya sama-sama bimbang dan ragu dengan ego masing-masing. Tapi menjelang ending, aku mulai mendapat semangatku lagi untuk menyelesaikan buku ini. Kehadiran Clare di sini menurutku juga cukup menolong sih. Agak-agaknya bisa membuat buku ini tidak minim konflik.

Porsi antara narasi dan dialog menurutku juga pas, dan tidak berlebihan. Hanya saja sedikit terganggu karena typo-typo tadi. Lalu, ada satu part yang menurutku cukup disayangkan karena emosi dan suasana yang digambarkan penulis tidak cukup relevan. Yakni pada saat Clare memergoki kebersamaan Adam dan Nath. Yang menjadi pusat daya tarikku saat itu seharusnya adalah kemarahan Clare. Tapi rupanya di sini penulis tidak begitu mengulas lebih lanjut tentang keadaan dan emosi yang seharusnya terjadi pada saat itu sehingga terkesan nanggung.

Penggunaan sudut pandang orang pertama secara bergantian antara Nath dan Adam juga satu hal yang menarik. Kita bisa menikmati dan mengilhami cerita dari dua sisi yang berbeda, dan tentunya kita bisa melibatkan diri secara langsung ke dalam cerita. Ending? Lumayan puas sih, karena apa yang aku inginkan di awal benar-benar terkabul, hehe.

Overall, Perfect Love ini sangat ringan untuk dinikmati. Dan, ingat! Hanya untuk kalangan tertentu. Sebagai penutup, 3 jempol Benevan dan si calon dedeknya….


Terima kasih!

***

“Apa yang tampak sempurna di mata ternyata tidak sesempurna kenyatannya, karena memang tidak ada yang sempurna. Dan apa yang kita pikir yang terbaik, belum tentu yang terbaik bagi Tuhan.”
Hlm. 178


Tidak ada komentar:

Posting Komentar