Sabtu, 09 April 2016

[Book Review] Tiger On My Bed - Christian Simamora



Judul : Tiger On My Bed
Penulis : Christian Simamora
Cetakan : Pertama, 2015
Tebal : xii + 396 hlm
Penerbit : TWIGORA
Kategori : Novel Dewasa
978 – 602 – 70362 – 3 – 9
Bisa dibeli di : bukupedia.com

Blurb:

“UNTUK MENARIK PERHATIAN LAWAN JENISNYA, HARIMAU BETINA BISA MERAUNG SAMPAI 69 KALI SELAMA 15 MENIT.”
Jai harus mengakui, Talita Koum Vimana membuatnya sangat penasaran. Dia duduk di pangkuan Jai, membuai dengan suara tawanya, dan bahkan tanpa ragu mengkritik kemampuannya merayu lawan jenis. Hebatnya lagi, semua terjadi bahkan sebelum Jai resmi berkenalan dengan Tal.

“SELAYAKNYA TARIAN, HARIMAU JANTAN DAN BETINA MELAKUKAN KONTAK FISIK SATU SAMA LAIN, DISERTAI SUARA RAUNGAN DAN GERAMAN.”
Jujur saja, alasan utama Tal mendekati Jai justru karena dia sama sekali bukan tipe idealnya. Dia dipilih karena alasan shallow: indah dilihat mata, asyik diajak make out. Jenis yang bisa dengan gampang ditinggalkan tanpa harus merasa bersalah.

“TAHUKAH KAMU, SETELAH PROSES KAWIN SELESAI, HARIMAU JANTAN SELALU MENINGGALKAN BETINANYA?”
Tiger arrangement, begitu keduanya menyebut hubungan mereka. Dan, ketika salah satu pihak terpikir untuk berhenti, pihak lain tak boleh merasa keberatan. Jai dan Tal menikmati sekali hubungan kasual ini. Tak ada tanggung jawab, tak ada penyesalan… sampai salah satu dari mereka jatuh cinta.

Selamat jatuh cinta,

CHRISTIAN SIMAMORA


***

“Mencintai seseorang itu adalah pengalaman yang luar biasa. Jatuh cinta membuatmu jadi selalu kelewat penasaran.”
Hlm. 113

Apa yang kamu rasakan ketika diputusin secara sepihak sama calon tunanganmu?

Apalagi diputusin karena tunanganmu itu mengaku lebih cinta sama orang lain. Terlebih sama wedding planner sendiri—orang yang jelas-jelas membantumu dalam mempersiapkan proses pernikahan. Jika kamu pernah mengalami hal serupa, berarti kamu bernasib sama dengan Talita Koum Vimana. Sebulan lamanya ia dibuat depresi dan kecewa berat dengan keputusan Rizal—mantan tunangannya—yang secara tiba-tiba mengaku bahwa ia lebih mencintai orang lain. Lebih pahitnya lagi, Rizal berkata bahwa ia lebih mencintai orang yang menjadi wedding planner dalam pernikahan mereka. Gila! Kira-kira itulah yang dialami Tal—sapaan akrab Talita—saat itu.

Hingga pada akhirnya, di sinilah sekarang Tal berada, bersama kedua orang sahabatnya, Fika dan Yana. Mereka sedang berada di tengah kerumunan manusia yang ada di sebuah club bernama Le Tigre. Dan, di tempat itulah pula, ide gila itu muncul. Fika dan Yana menyarankan Tal untuk mencari seorang rebound—orang yang dijadikan pelampiasan sementara, dan hubungan mereka hanya sebatas one night stand saja. Dengan begitu, jika salah satu pihak memutuskan untuk pergi, maka tidak ada satu pun dari mereka yang merasa disakiti. Bagi Fika dan Yana, mencari seorang rebound adalah solusi yang pas untuk mengobati rasa sakit hati sahabatnya tersebut. Hingga, pada akhirnya Tal berhasil berkenalan dengan seorang pria di club itu juga. Laki-laki itu bernama Jai. Dari situ, keduanya mulai menjalin hubungan. Namun, hubungan mereka hanya sebatas fisik dan seks saja—layaknya hubungan rebound, dan tidak lebih. Tiger arrangement, begitulah keduanya menyebut hubungan mereka.

Tapi, apa jadinya jika salah satu di antara mereka terlibat ke dalam perasaan yang lebih serius?

Apakah mereka akan menuruti kesepakatan yang sebelumnya, atau justru akan mengikuti kemana arah hati melangkah?

***

“Goodbye is goodbye, it will hurt us eventually.”
Hlm. 118

Tiger On My Bed adalah buku pembuka dari seri Vimana Singles yang ditulis oleh Bang Simamora. Dan, nantinya akan ada 3 buku berikutnya yang akan masuk di seri ini. Setidaknya begitulah yang sudah diucapkan oleh Bang Simamora pada bagian ‘Seven Things About Tiger On My Bed’ di buku ini. Dan, Tiger On My Bed adalah buku pertama dari Bang Simamora yang aku baca. Oh iya, sebelumnya aku juga mengucapkan terima kasih buat Kak Jeruk yang sudah memilih aku buat jadi pemenang GA-nya dan mendapatkan buku ini secara cuma-cuma. Uhuy, selama ini aku memang selalu penasaran dengan tulisan Bang Simamora yang identik dengan buku-buku dewasanya. And, along read this book, I really made hot.

Sebagaimana novel dewasa pada umumnya, buku ini banyak menyajikan adegan-adegan panas yang dikemas dengan cukup apik. Bagaimana penulis menciptakan emosi, dan chemistry antara Jai dan Tal benar-benar memesona. Tak jarang pula (dibaca: sering), gairah dan hasrat yang melibatkan kedua tokoh itu ikut tersulut ke dalam emosiku, haha. Selain dikemas dengan begitu baik, sex scene di sini juga sangat mendominasi isi buku. Di luar dugaan, sex scene di buku ini banyak bertebaran mulai dari awal hingga akhir buku. Dan, setiap adegannya pun hampir memakan porsi satu bab sendiri. Wow, bener-bener bikin hot pokoknya, haha. Dan, untuk ukuran novel dewasa, menurutku buku ini sudah sangat nendang banget! So, tidak sembarang orang boleh membaca buku ini. Memang harus ada batasan usianya.

Dilihat secara fisik, aku menyukai cover buku ini yang terlihat elegan, glamour, dan mewah. Sama halnya dengan kehidupan para tokoh-tokoh di dalamnya. Dengan mengangkat latar metropolitan yang kental, setiap tokoh di sini memiliki gaya hidup yang terlampau mewah dan bebas. Secara fisik atau tampilan, setiap tokoh dideskripsikan dengan begitu baik oleh penulis. Mulai dari gaya hidup sehari-hari, cara berpakaian, dan segala hal yang melekat pada tubuhnya dijelaskan dengan sangat detail. Meskipun terkadang aku juga agak susah membayangkannya sih, hehe. Beda halnya dengan karakter, kita bisa menyimpulkan sendiri bagaimana karakter setiap tokoh lewat adegan yang melibatkannya.

Secara kasar, buku ini bercerita tentang hubungan tanpa dasar komitmen yang jelas. Hal ini sejurus mengingatkanku dengan novel Last Forever dari Windry Ramadhina yang memiliki premis serupa. Meski begitu, aku tetap menemukan hal yang membuat kedua buku ini berbeda. Terutama dengan profesi tokohnya. Jika di Last Forever, Samuel dan Lana sama-sama menekuni pekerjaan di dunia per-film-an, di Tiger On My Bed ini, profesi yang dijalani oleh Jai dan Tal terbilang anti-mainstream. Dalam arti, tidak banyak ditemui di novel-novel lainnya. Di sini, Jai bekerja sebagai appraiser jewelry. Bergelut dengan dunia perhiasan membuat kesan glam semakin melekat di kehidupan Tal. Aku sangat kagum juga dengan penulis yang melakukan riset dengan sangat baik untuk pekerjaan Tal ini. Benar-benar mendetail. Meski begitu, sebenarnya aku susah untuk memahami pekerjaan Tal ini. Ada satu adegan yang membuat aku bingung dan bolak-balik bacanya. Dalam hati aku bertanya ‘ini lagi ngapain sih? Atau, ini maksudnya gimana sih?’. Yah, mungkin karena dunianya Tal terlalu asing bagiku ya, jadi aku rada susah untuk mencermatinya dengan baik.

Selain Tal, Jai di sini juga memiliki pekerjaan yang tak kalah menarik—Desainer Interiror. Beda dengan Tal, profesi Jai ini tidak terlalu dieksplor sama penulis. Yah… setidaknya, diselipkan sedikit adeganlah saat Jai bekerja di kantornya. Mendeskripsikan seperti apa detail-detail pekerjaannya dan bagaimana ia menjalani pekerjaannya itu. Selain itu, cerita di buku ini terlalu menyoroti tentang kisah Tal dan Jai saja. Seolah tidak ada kemungkinan untuk aspek lain ikut mendominasi ceritanya. Sebenarnya aku cukup dibuat penasaran dengan kehidupan Tal di masa lalu. Tentang konflik yang ia alami dengan keluarganya, dan tentang kakaknya yang selalu menjadi kebanggaan keluarga, beda dengan dirinya.

Selain itu, aku juga sempat ketipu dengan setting yang diangkat di buku ini. Awalnya aku mengira kalau buku ini mengambil latar di luar negeri, tapi ternyata bukan. Ini di Indonesia looh, hehe. Soalnya jika dilihat dari nama-nama tokohnya, identik banget dengan nama orang luar. Ya, nggak? Oh iya, untuk ending di buku ini, menurutku cenderung biasa aja. Nggak ada kejutan dan nggak ada kesan. Jika dibandingkan dengan isi ceritanya, aku cukup menyayangkan karena sangat berbanding terbalik. Ceritanya yang bagus, harus berakhir dengan ending yang biasa.  Di bab terakhir pun, penulis banyak mengungkap fakta—yang sebenarnya mengejutkan—tapi, tidak menurutku. But, it’s okay lah. Aku cukup dibikin nagih sama tulisan bang Simamora ini. Hopefully to read another books!

And then, sebelum berakhir. Aku cuma ingin mengingatkan kalau buku ini hanya direkomendasikan untuk kalangan yang sudah berumur. Minimal 17 tahun lah yaa.. minimal loh, hehe. Buat Bang Simamora, ditunggu 3 buku berikutnya di seri Vimana Singles.

Terima kasih!

***

“Terkadang alasan kita hadir dalam hidup seseorang bukan untuk mengharapkan cintanya, melainkan untuk memperlihatkan betapa berharganya dia untuk dicintai.”

Hlm. 196

Tidak ada komentar:

Posting Komentar